Monday, September 4, 2017

Selamat Tinggal, Cinta Pertama

Tujuh tahun berlalu begitu cepat, tak terasa, tak disangka, aku bisa bertahan selama ini. Belum pernah terpikir olehku bahwa aku bisa gila, hanya karena orang sepertimu. Kau bukan orang sempurna, perawakanmu tak begitu ideal walau tinggi badanmu membuatku gila, tatapan matamu memang sempurna tapi bukan soal itu saja, keegoisanmu dan arogansimu terlupakan begitu saja, hanya soal cinta.

Cinta memang tak butuh alasan, bukan? Karena sejak tujuh tahun yang lalu aku mencari, apa alasanku terus berdiri di sini. Dan tak kunjung kutemui juga. Cintaku sudah ditolak, tapi kenapa aku masih gila bertahan hanya karena prinsip bahwa cinta pertama bisa jadi selamanya?

Beberapa kali, aku hampir tersadar. Menyadari bahwa rasa ini hanya semu belaka. Aku bukan mencintaimu, lebih tepatnya terobsesi. Aku ingin terlepas dari jerat ini, dengan membuka hati untuk orang lain, yang rupanya belum bisa memberiku angin segar seperti yang kuharapkan.

Lalu aku tertawa keras, frustasi, aku takut penolakan lagi, maka dengan bodohnya aku kembali hanya karena berpikir dibanding harus terluka dua kali, lebih baik beri aku satu luka yang begitu dalam sehingga mati rasa. Dan kau, pisau terhebat yang menyayat hatiku dengan tepat. Kau, kubanggakan, meski melukaiku dan mematikanku secara perlahan.

Hingga akhirnya akal sehat membuatku sepenuhnya tersadar. Cinta bukan tentang luka. Membiarkan luka itu berkembang hanya akan membuat harga diriku terbuang. Dan aku butuh bahagia dan kau bukan orang yang bisa membawa hal itu kepadaku.

Kau, akan kulepaskan dengan kesadaranku yang penuh.

Kau, memang tak bisa kuhapuskan dari bayangan tentang cinta pertama. Karena selamanya, aku tak bisa menghapuskan siapa cinta pertamaku.
Tapi kau, bukan cinta selamanya. Karena kau hanya membawa luka.

Selamat tinggal, Cinta Pertama. Kuharap kutemukan bahagia, sebagaimana kau bahagia tanpa aku di dalamnya.

0 comments:

Post a Comment