Showing posts with label him. Show all posts
Showing posts with label him. Show all posts

Sunday, April 26, 2015

I Stopped

Setelah 1749 hari berlalu, aku memutuskan untuk berhenti.

Hampir lima tahun, semua fokusku tertuju padamu. Apa yang aku bicarakan, apa yang aku tuliskan, dan apa yang aku pikirkan segalanya terfokus padamu. Aku menyadari dalam tempo waktu yang tidak sedikit itu, kau berperan cukup besar dalam perkembanganku. Bagaimana caraku menulis, bagaimana caraku berpikir, bagaimana caraku bertingkah laku. Kau, berperan begitu besar dalam hidupku, yang bodohnya tak pernah kau sadari. 
Sudah hampir lima tahun berlalu saat kau pertama datang di hidupku, saat kau berdiri di ambang pintu kelas, dan saat itulah seharusnya aku sadar hidupku akan mulai berubah. Aku sempat memutuskan untuk berhenti menulis, tapi semenjak hari itu, inspirasiku mulai tumbuh dengan cepat, khayalan demi khayalan terus menggangguku dan aku mulai menulis lagi. Aku mulai menuliskan apapun yang aku pikirkan, aku mulai menuliskan segala inspirasi yang ada di kepalaku, aku mulai menulis segala khayalanku. Tentu, kau tidak pernah tahu tentang itu.
Hampir lima tahun, aku mengenalmu serta mengenal sesuatu yang orang katakan sebagai cinta, cinta pertama. Bagaimana aku benar-benar merasakan awal mula aku tertarik, berubah mulai suka, hingga jatuh menjadi cinta. Saat-saat aku bercerita pada teman-temanku bahwa kau telah menarik perhatianku. Bagaimana segala memori tentang kau dan aku mulai muncul dan menancap tajam di pikiranku. Bagaimana aku benar-benar yakin bahwa aku jatuh cinta, aku jatuh hati, denganmu. Meski aku sadar, aku masih terlalu muda. Meski aku sadar, kau tidak tahu menahu tentang semuanya.
Sudah hampir lima tahun berlalu dan aku tidak mau menambah waktu.

Aku berhenti. Aku katakan sekali lagi, aku berhenti. 

Aku tahu, ini bukan kali pertama aku mengatakan seperti ini. Selama hampir lima tahun, aku terus mencoba tapi hasilnya nihil. Tapi, saat malam itu datang, saat dimana sebuah pikiran menelusup masuk di pikiranku, hatiku dan pikiranku seolah meneriakan hal yang sama. Aku harus berhenti.

Semua yang terjadi hampir lima tahun yang lalu adalah kesalahanku.
Bagaimana dengan mudahnya aku tertarik padamu. Bagaimana dengan bodohnya aku jatuh hati padamu. Bagaimana dengan mudahnya aku menganggap segala perlakuanmu padaku selalu aku anggap serius. Bagaimana aku seolah menjadi Drama Queen, terbawa suasana, seolah menganggap hidup ini drama. Bagaimana dengan bodohnya segala tulisanku tertuju padamu.
Harusnya pesanmu kala itu menyadarkanku, bahwa kau tidak pernah menyukaiku. Harusnya aku sadar dari awal.
Aku tahu semuanya kesalahanku, bagaimana aku menyakiti diriku sendiri. Dengan mengatakan bahwa selama kau bahagia aku juga ikut bahagia. Dengan mengatakan bahwa aku membiarkan kau menyukai siapa saja asalkan kau tidak melarangku untuk menyukaimu. Harusnya aku sadar bahwa semuanya hanya omong kosong. Sayang, hatiku tidak sekuat itu. Dan bodohnya, aku menghancurkan perasaanku sendiri.

Setelah hampir lima tahun berlalu, akan kuhapuskan segala tentangmu. Bersama hujan yang turun di sela-sela aku menuntaskan tulisan ini. Semua kenangan akan lebur bersama air hujan yang perlahan berhenti. Kau, tidak akan menjadi alasanku menulis lagi.
Setelah aku sadar, percuma aku menulis untukmu. Kau tidak akan pernah membacanya. Karena kau tidak pernah menyukaiku, kan? Aku tahu sekarang, aku sadar sekarang. Meski begitu terlambat. Meski sudah hampir lima tahun berlalu.

Mulai sekarang, aku akan berubah. Aku akan berhenti menulis tentangmu. Aku mulai mengubah fokusku. Bukan untukmu. 
Mulai sekarang, aku berhenti.
Tulisan ini, akan menjadi tulisan terakhirku untukmu.


Untukmu, yang telah menjadi inspirasiku semenjak 13 Juli 2010, yang tidak akan pernah membaca semua tulisanku, dan yang tidak pernah bisa membalas rasaku.

Friday, April 11, 2014

Dorabojima, Jebal Juseyo

Sudah kubilang jangan datang lagi ke hidupku. 
Karena kau hanya akan menyisakan luka dan membiarkanku kembali.
Kembali ke sebuah rasa yang seperti fatamorgana.
Yang membuatku seolah mendengarmu memanggil namaku.
Yang nyatanya tidak sama sekali.

Sore itu, tak ada perasaan macam-macam dalam benakku--biasa saja. Sampai akhirnya aku mengambil ponselku yang kutelantarkan begitu saja beberapa akhir ini. Sekali lagi, tak ada rasa apa-apa sebelum kubuka aplikasi chatting yang menampilkan namamu di layar ponselku.

Untuk sesaat aku tertegun. Membaca berkali-kali untuk memastikan namamu benar-benar muncul, memastikan bahwa ini sungguhan--sungguhan kau yang menghubungiku duluan setelah beberapa bulan.

Lagi.
Kita berbincang lagi dalam percakapan singkat itu. Seperti biasa, tak ada kata macam-macam yang kau keluarkan. Seperti biasa, jangankan menanyakan perasaanku, menyinggung keadaanku saja tak pernah kau lakukan. Kita hanya berbincang, percakapan yang cukup tak penting, yang membuatku berputar otak lagi berpikir mengapa kau harus menghubungiku jika yang kau tanya hanya masalah sepele seperti itu.
Tapi, seperti biasa, kau selalu membuat yang biasa menjadi tidak biasa.
Tapi, bukan itu yang ingin kubahas kali ini. Melainkan mengenai usahaku yang sia-sia lagi. Usahaku tentang melupakanmu.

Aku sudah berniat melupakanmu. Berjanji tak akan menyinggungmu lagi dalam obrolan sehari-hariku. Berjanji mengubah genre tulisanku dari zona-zona yang biasa kulakukan--friendzone, one sided love.
Berjanji bahwa untuk sekarang aku benar-benar serius untuk melupakanmu. Karena aku sudah dalam ambang batas kejenuhan. Hanya saja, aku tahu aku memang lemah--kau sapa begitu saja membuyarkan semua usaha yang sudah kubangun susah payah, dan kini memori itu perlahan tapi pasti datang lagi. Menjamur dalam hatiku dan tak mau pergi lagi.

Sudah kubilang berapa kali,
aku sudah menyuruh rasa itu pergi
tapi ia selalu tinggal
dan aku tak punya alasan untuk menyuruhnya tak tinggal.

Kini, kau berhasil membuatku kembali, Ke angan-angan penuh harapan itu. Yang sulit terbuang. Yang kembali hanya karena sentilan sebuah obrolan. Kalau saja lain waktu aku berpikir untuk meninggalkanmu lagi, kumohon, jangan hampiri aku meski hanya selintas. Kumohon, jangan datang ke hidupku lagi meski hanya dalam mimpi.

Sunday, March 9, 2014

Love Dust

Karena kenangan cinta itu seperti debu.
Karena melupakan itu seperti menyapu.

Aku kembali dengan setumpuk kenangan yang ingin hilang. Meski mereka berdesakan minta kembali tapi aku kokoh berdiri mengusir mereka lagi. Tiba-tiba berbagai pemikiran tentang kenangan dan melupakan masuk menelusup ke hati dan pikiranku.
Kenangan cinta itu seperti debu.
Melupakan itu seperti menyapu.
Kenapa bisa begitu?
Jika diibaratkan, hati itu seperti rumah. Dan hatiku itu seperti rumah kosong yang berdebu dan kumuh. Dan tumpukkan debu itu adalah kenangan cintanya. Rumah itu kosong tak berpenghuni, jelas saja, mana ada orang yang mau datang ke rumah yang penuh debu? Artinya, mana ada orang yang mau singgah pada hati yang masih memiliki kenangan pada masa lalunya?

Aku berdiri berusaha menyapu, menghilangkan debu yang menumpuk selama tiga tahun belakangan ini. Meski lelah, aku harus tetap menyapunya hingga bersih. Kerja keras itu tak lain adalah kerja keras untuk melupakan. Cara move on paling ampuh adalah menghapus kenangan, segala kenangan.

Lalu tiba-tiba usaha move on itu gagal. Sama seperti kita sudah mulai menyapu rumah penuh debu itu, hingga sudah cukup bersih hingga ada seseorang yang mau singgah dan datang. Tapi aku lelah menyapu, jadi aku duduk untuk mengambil nafas barang sejenak. Dan orang-yang-mau-masuk itu melihat tumpukkan debu lagi yang belum sempat kusapu, dan orang itu keluar lagi. Dan aku mulai lelah seterusnya, dan debu-debu itu datang lagi memenuhi rumahku. Rumahku kumuh lagi.

Semangat move on itu datang lagi. Aku berusaha menyapu lagi. Menyapu kenangan-kenangan itu yang sudah mengerak. Satu bulan, dua bulan, dan rumahku sudah mulai bersih. Hanya saja, debu akan selalu datang meski aku menyuruhnya untuk pergi.

Kini, kenangan tentangnya masih singgah di hati. Aku punya niat untuk melupakan, tapi rasanya dayaku terlalu sedikit meski hanya untuk berdiri. Debu itu memasuki pernapasanku, masuk menelusuk ke trakea hingga bronkus lalu masuk ke alveolus, masuk ke pembuluh darah dan merusak semuanya. Berusaha dikeluarkan tapi terlalu sulit untuk melakukannya. Debu kenangan itu menelusup hingga kapilerku, masuk ke jantung dan terus berputar mengelilingi tubuhku, tak mau keluar. Mereka sudah terlanjur merusak, dan aku hanya diam mencoba menikmatinya.

Monday, October 21, 2013

First Love End [Inspired by K.Will's Song]

My first love has died, buried in my heart
It burned up my heart and became ash


Ponselku memutarkan sebuah lagu yang baru saja aku unduh semalam. Telingaku mendengarkan liriknya baik-baik. Perasaanku akhir-akhir ini sedang tidak baik-baik saja. Banyak sekali yang ingin ku ceritakan lewat lagu dan ku rasa lagu ini cukup tepat untukku.
Aku ingin bercerita tentang sebuah cerita yang bukan pertama kalinya aku tulis. Aku ingin berpindah hati. Kau tahu, bukan sesuatu yang mudah mempertahankan perasaan selama tiga tahun pada orang yang sama--orang yang bahkan tak pernah menganggapmu lebih dari hanya seorang teman. Kau tahu, aku sudah mati-matian menahan sakit dan aku ingin menyerah sekarang.

My first love has died, buried in my heart
It burned up my heart and became ash


Aku ingin menganggapnya sudah pergi jauh dan tak akan kembali lagi. Seperti menemui kematian seolah selama hidupku mendatang aku sudah tidak akan bertemu dengannya. 
Aku ingin cinta pertamaku mati. Mati terkubur dalam hatiku. Mati dan membiarkanku mencintai orang lain. Mengapa cintaku terlalu egois? Mengapa ia mengambil hatiku dengan cara seperti ini? Dengan kenyataan bahwa mencari pelarian saja tidak bisa lebih-lebih mencari pengganti.

My love that won’t ever come again, it’s you, it’s you
My first love has died


Aku hanya ingin menganggapnya seperti itu. Dia yang tak akan datang lagi dan dia yang seolah sudah mati. Maka aku akan melepasnya.
Kau tahu ini tidak mudah tapi mungkin ini salah satu cara yang bisa membuatku bisa melupakannya.

The person who became my hope for the first time
The person who became my despair for the first time
My love that won’t ever come again, it’s you, it’s you
My first love has died

Tuesday, October 1, 2013

With Ballad Songs

Bersama alunan lagu I Need You milik Kim Sung Gyu, aku mulai menulis lagi.

Menulis tentang orang yang tak akan pernah ada bosannya ku ceritakan. Bahkan aku sudah lupa berapa kali aku menyebutkan kepada orang-orang bagaimana peristiwa pertemuan kami yang berimbas jadi cinta seperti ini terjadi. Bosan mungkin menurut kalian mendengarnya. Tapi entahlah, aku masih sangat tertarik untuk membahasnya lagi.
Alunan balada yang mengalun di telingaku seolah masuk ke dalam hatiku. Bagaimana Kim Sung Gyu berkali-kali menyebut kata I Need You dan rasanya aku ingin berteriak begitu juga kepadanya. Kepadanya yang tiga hari lagi akan datang ke kotaku yang sama sekali tak ku ketahui tujuannya, yang sama sekali tak ada perjanjian untuk bertemu dengannya, yang mungkin akan berdampak cukup buruk bagi mood-ku tiga hari mendatang.
Aku uring-uringan lagi. Menulis lagi dan melakukan hal-hal bodoh lagi sesaat sebelum aku tidur;mengkhayal akan bertemu dengannya, membayangkan wajahnya yang samar-samar sudah mulai ku ragukan masih sama seperti setahun yang lalu, dan mengkhayati setiap lagu-lagu balada yang berputar lewat daftar main musik pada ponselku.
Kubuka lagi sebuah buku kenangan masa sekolah menengah pertama yang ku letakkan di meja dan di baris buku paling depan--agar aku selalu bisa membacanya--fotonya terpampang di sana beserta kesan saat bersekolah di sekolah yang sama denganku. Fotonya yang terpasang satu halaman di belakang fotoku. Ku lihat senyum ringannya dan rindu itu menelusup paksa lagi. Tidakkah dia sadar bahwa aku lelah untuk bersikap seperti ini? Karena menatap wajahnya lewat foto hingga hari berlalu saja tak akan bisa menghilangkan rasa rinduku yang sudah terlanjur menumpuk seperti tumpukkan sampah yang ada di kota tinggalnya sekarang.
Perlahan, lagu yang ku dengar berubah menjadi If This Was A Movie milik Taylor Swift. Aku merutuki lagi mengapa semua lagu yang ku simpan hampir semuanya bercerita tentang cinta sebelah tangan. Bagaimana seluruh lagunya hampir bercerita tentang kisah kami. Bagaimana aku selalu mencari lagu-lagu balada terbaru untuk menyalurkan rasa rinduku.
Kemudian, dentingan lembut piano dari lagu So Close milik Jon Mclaughin menggema lagi dan membuatku ikut terhanyut lagi.
All that I wanted to hold you So Close...

Sunday, September 22, 2013

Monday, September 2, 2013

[Fanfiction] The Promise


Title : The Promise
Author : Minhyuk’s Anae
Length : Oneshoot
Rating : PG-16
Genre : Romance, Friendship
Cast :
-          Wu Yi Fan (Kris)
-          Amber Liu
-          Jung Soo Jung (Krystal)
-          Kim Jonghyun
-          Other Cast
Note : Thank you if you read this. I’m so glad if you want to fill the comment and click the like button. My happiness is when all of you enjoy the story. Re-post : aninjustanin.blogspot.com .  This Fanfiction is belong to Kris-Ber Shipper.

Saturday, August 24, 2013

You

Kisah tentang cintaku dengan siswa baru pada masa sekolah menengah pertamaku, entah kapan akan selesai.
Aku masih ingat posting pertama yang ku tujukan kepadanya adalah Coup De Foudre yang ku tulis 10 hari setelah bertemu dengannya. Sebuah posting yang ku tulis dengan grammar bahasa inggris yang sangat acak-acakan--maklum, aku masih kelas 2 smp waktu itu. Bagaimana kisah itu mulai berawal dan menjadi setumpuk cerita melebihi novel tebal yang pernah ku baca, menjadi setumpuk kata yang tak bisa ku ungkapkan.
Sampai pada posting-ku yang sekarang, tulisanku masih tertuju untuknya.
Aku tidak tahu sampai kapan aku menulis segala cerita tentang kisah cintaku yang mengalun seperti balada bersama siswa baru itu.
Mungkin tak ada posting terakhir.
Mungkin juga akan ada posting terakhir tentang kisah kami.
Mungkin aku ingin posting terakhir itu akan bercerita bagaimana Cinta Pada Pandangan Pertama-ku itu berujung bahagia setelah bertahun-tahun lamanya.
Halo, Juli 2010, aku ingin mengulang kisah itu. Aku ingin memperbaikinya dan menjadikannya ending bahagia. Lalu aku tahu itu tak mungkin, sekarang aku ingin tetap menjadikannya ending yang bahagia.

Tahun Ketiga dan Tahun Pertama

Akhir-akhir ini pikiranku kacau ketika membayangkan wajahmu. Perasaan lelah mulai ku rasakan. Apa aku sudah lelah menunggu?
Ini adalah tahun ketiga aku menyukaimu. Menunggumu untuk sadar bagaimana aku sudah jatuh hati padamu semenjak pertama kali mataku memandangmu. Di pinggir kaca pintu kelas dua sekolah menengah pertama, dan segala kenangan selama setahun berada di sampingmu adalah hal yang tak akan kulupakan.
Awalnya ku kira menunggu bertahun-tahun tak akan ada hal yang berpengaruh dalam hidupku. Mungkin aku hanya perlu diam, menunggumu datang, menyambutmu kembali--itupun jika kau ingin aku menyambutmu, lalu akan datang di mana cintaku akan berlabuh bahagia. Tapi ternyata menunggu tidak semudah itu.
Cintaku tidak terluapkan, rinduku tidak tersampaikan, kau tahu juga tidak, bukan?
Lalu aku sempat berpikir, mengapa aku masih menunggumu? Di saat mungkin saja kau di sana tak pernah memikirkan aku barang selintas. Apa Anin masih mencintaiku?
Walau tak pernah ada kata terucap langsung dariku bahwa aku mencintaimu, terlalu mustahil kau tidak tahu bahwa aku pernah memendam rasa.
Setelah menunggu 3 tahun lamanya ditambah Setahun penantian untuk kembali bertemu, aku merasa ganjil pada rasaku. Apa yang telah aku perbuat selama ini untukmu, apa ada timbal balik baik bagiku? Apa ada balasan untukku?
Lalu sadarku datang, bahwa kata mereka cinta memang seperti itu. Cinta datang meski tak diminta, cinta akan hinggap meski sudah disuruh pergi.
--Jangan pernah tanyakan berapa kali aku menyuruh rasa itu pergi, aku sudah berusaha tapi dia datang lagi. Dan aku tidak punya alasan untuk tidak menyuruhnya tetap tinggal.

Pada Tahun Ketiga setelah pertemuan kita dan Tahun Pertama setelah perpisahan kita, cintaku mulai meragu.

Jika Aku Boleh Meminta

Jika aku boleh meminta, maka aku akan memintamu suatu hal. Bukan hal yang muluk tapi cukup berarti bagiku. Bukan hal besar tapi terasa istimewa bagiku. Bukan apa-apa tapi berharga bagiku. Itupun kalau kau membolehkannya.

Jika aku boleh bertanya, ada satu pertanyaan yang mengusik relung hatiku untuk bertanya padamu. Pernahkah aku hadir dalam pikiranmu?
Jika jawabanmu tidak, sama seperti yang aku perkirakan, maka aku akan memintamu satu hal, itupun jika kau mengizinkan aku untuk memintanya.

Jika aku boleh meminta, maka aku akan memintamu untuk menyimpan namaku, memori tentangku, dan sedikit kenangan kita di hidupmu. Jika hidupmu terlalu luas untuk menerimaku, maka ku sarankan kau simpan saja aku hanya sebatas di hatimu. Jika sebuah hati masih terlalu lapang untuk kau bisa memikirkanku, maka simpan saja aku di sel-sel pikiranmu yang kecil tapi banyak. Jika semua itu masih terlalu muluk untuk ku minta, maka bisakah kau simpan memori tentangku walaupun hanya sebatas pada unsur terkecil dalam tubuhmu?
Sebuah unsur yang mungkin bisa lebih kecil dari sel, dari molekul, dari partikel, dan sebuah unsur yang paling kecil yang tak akan pernah bisa terbagi lagi.
Jika semua itu tak bisa kau terima, jika kau masih tak mau menyimpan memori tentangku sama sekali, maka aku akan melepasmu untuk pergi.
Jika suatu saat kita memang tidak pernah bertemu lagi, jika hari itu adalah hari terakhir aku bisa memandangimu, memandangmu lebih dekat, dan bertemu denganmu, jika suatu saat kau membaca tulisan kecilku ini, maka aku ingin kau jawab pertanyaan yang ku tulis di atas tadi dan aku ingin kau mengabulkan permintaanku.
Jika kau tetap tak bisa, maka mungkin ini semua sudah takdirnya.

Satu hal lagi jika hari itu adalah hari terakhir kita bertemu, kau hanya perlu tahu bahwa kau akan dan selalu ada pada bagian terbesar dalam tubuhku.
kadang, aku juga ingin kau simpan aku di sel-sel darahmu. yang mengalir terus selama kau hidup, dan bisa selalu kau ingat. Jika semua yang ku tulis bisa kau baca dan kau sadari, maka cintaku tidak akan sebalada ini

Monday, June 3, 2013

Datanglah

Setahun berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin kita saling kenal, rasanya baru kemarin kau membuatku jatuh hati, rasanya baru kemarin kau dan aku saling berbagi cerita, dan sudah setahun kau meninggalkanku.
Wajahmu masih terbayang jelas di memoriku, tuan. Bagaimana matamu membentuk sebuah senyuman saat kau tersenyum. Bagaimana matamu menyorot tajam tapi hangat setiap aku mengajakmu berbicara. Bagaimana mataku mencari bayangku yang tidak ada di sorotan matamu.
Secercah rasa bahagia menyelinap dalam hatiku untuk mengetahui bahwa kau masih mengingatku. Meski hanya sebatas teman. Tapi, untuk mengetahui kau masih ingat saja, ini sudah cukup untukku, Tuan.
Terus ingat aku, tuan. Sebagai temanmu yang bisa menerima kamu apa adanya. Sebagai temanmu yang siap sedia menerimamu. Kemudian kau akan ingat aku sebagai seseorang yang menaruh harap padamu. Kemudian kau akan ingat aku sebagai seseorang yang menunggumu. Kemudian kau akan ingat aku yang selalu mencintaimu.
Kemudian, berbaliklah, tuan.
Datanglah. Pertemuan kita akan sangat berarti meski jika Tuhan hanya memberi kita waktu yang sempit. Datanglah. Walau seandainya hatimu tetap tidak bisa ku miliki, ku mohon datanglah.
Datanglah. Meski hanya sebatas menatap matamu barang sebentar. Datanglah. Meski yang ingin ku dengar lebih dari apa yang ku harapkan.
Mungkin harapanku terlalu muluk untuk memintamu untuk datang. Jika keberatan, mengapa Tuhan tidak pertemukan kita sebentar saja? Aku hanya butuh melihat keadaanmu sebentar dan mendengar suaramu memanggil namaku dengan tegas seperti biasanya.
Datanglah. Jika takdirku bukan dirimu kau boleh pergi lagi. Lalu aku tidak akan mengharapmu lagi. Tapi kumohon datanglah. Meski hanya satu kali. Meski kemudian Tuhan bisa ambil nyawaku, karena yang aku ingin adalah melihatmu satu kali lagi. Tersenyum dan memanggil namaku, Anindityas.
Karena hanya dirimu yang memanggil nama depanku dengan lengkap.

It Had Been A Year

It had been a year i didn't meet you. How are you? How's your life? Do you find a happiness there?
I remember the last moment we met, last year, 3rd June 2012 on a farewell party.
I remember that day I wore a red kebaya and doing some make up on my face. I walked in with my high heels and smile to everybody. Then my eyes catched you so handsomely with grey tuxedo and blue-grey strips tie. I looked at you so deeply, althought I know you didn't realize at that time.
I looked at you, only looked at you, always looked at you. I tried to captured your face on my brain and my heart. I tried to captured your face on my mind. I knew that after that day I don't know where or when we will meet again. I looked at you and whispered to my self, please, looked at me too, D
My heart beated so fast when I knew that the farewell already ended. I tried to find you, just want to say a farewell words and got a picture with you. So unfortunately, I didn't find you at that time. I looked around again but I didn't find you. Then, I walked out from that place and go home with a disappointed feeling that I didn't get our picture and I didn't say good bye to you.
Day by day, week by week, month by month then this day had come. A year after the farewell party. A year I didn't meet you. A year I didn't hear your sound. A year I didn't look your face. But there is one thing that you had to know, I still captured your face on my mind. Always. I never forget your face, No, I won't.
It had been a year, Mr. So, should I wait you for two years, three years, and more long years? Should I? Maybe, I should.

Wednesday, May 29, 2013

Fatamorgana

Aku berjalan di ruang yang sepi tanpa henti. Aku sendiri disini, tanpa tahu arah berjalan tanpa henti. Kemudian dari kejauhan tampak sosok yang begitu sangat ku kenal. Aku melihatmu. Berdiri disana dengan tegas memandangku sembari tersenyum. Dengan tulus hati, ku balas senyumanmu. Kau lambaikan jemarimu memintaku untuk mendekat. Tentu saja, dengan senang hati, aku mendekat.
Kemudian kedua alisku mengerut tidak mengerti. Mengapa sosokmu semakin menjauh? Kau terus memintaku mendekat, tapi disaat aku mencoba mendekat mengapa kau mengambil langkah ke depan untuk jarak yang lebih jauh? Aku terus mencoba dan tak mengerti. Ku kira akhirnya kau akan berhenti dan membiarkanku berjalan mendekatimu.
Lama-lama kakiku lelah juga. Kau terus seperti itu. Melambai, meminta, dan menjauh.
Namanya fatamorgana.
Aku tersadar bahwa sosokmu yang ada di jauh sana hanya fatamorganaku. Sama seperti genangan air pada gurun pasir yang panasnya lekat. Terlihat nyata padahal hanya sebuah fiksi;tidak nyata. Akhirnya aku berhenti. Masih memandangmu lekat kemudian aku berkedip dan kau menghilang begitu saja dari pandanganku.
Aku berbalik menatap tapakan jalan yang telah ku lewati sebelumnya. Aku pulang lagi menyusuri jalan itu dan tidak mau meneruskan lagi perjalanan anehku. Namun suaramu membuat nyaliku ciut lagi. Suara nyaringmu terus memanggil namaku. Aku sempat berpikiran untuk kembali mengejarmu namun tidak. Kau hanya sebuah fatamorgana.
Aku kemudian terus melanjutkan langkahku pulang sebelum pikiranku berubah dan semakin gila mengejar bayangan fatamorganamu yang tidak pernah jadi nyata.

Saturday, May 25, 2013

Dimensi Tiga atau Cinta

Kisah kita jika digambarkan mungkin tidak jauh dari kisah garis yang bersilangan dalam bangun ruang dalam dimensi tiga

Aku dan kamu tidak lebih dari dua garis yang saling bersilangan. Dimana kau dan aku tidak bisa bertemu. Kau sibuk dengan garis vertikalmu dan aku sibuk dengan garis horisontalku.
Awalnya kita berada dalam satu garis. Namanya garis pertemanan. Tapi entah tiba-tiba titikku melanggar ke seberang. Aku salah untuk menyeberang tiba-tiba. Aku salah, aku akui itu. 
Ku kira, kita tetap punya ujung. Sama seperti garis FB yang akan bertemu dengan garis AB dalam kubus ABCD.EFGH di dimensi tiga. Ku kira seperti itu. Tapi tiga tahun menunggu, mengapa garisku tidak kunjung menemukan garismu? Kemudian aku sadar benar bahwa kita memang bersilangan. Garisku tetap akan jadi garis horisontal yang menganggap kita lebih dari persahabatan. Menganggapku selalu mencintaimu. Dan kau akan tetap jadi garis vertikal yang berada jauh di belakang garis horisontalku dan menganggap kita tidak lebih dari sekedar teman. 
Kita ada dalam satu ruang yang sama tapi entah, sebuah takdir membuat kita tidak bisa bertemu dan harus selalu bersilangan.

Thursday, May 23, 2013

Sunday, May 19, 2013

Duduk di Hadapanmu

Aku memilih duduk di hadapanmu dibandingkan duduk di sampingmu

Hari itu bukanlah hari pertama kau mengajakku pergi bersama. Tentu saja tidak berdua, bahkan pernah kau mengajakku pergi berdua dan aku justru mengajak orang lain untuk pergi bersama kita. Kita pergi bersama, bersenang-senang bersama, dan aku menatap sesuatu yang lain dari matamu.
Bisakah kau rasakan percikan rasa bahagiaku ketika kita bersama?
Matamu berbeda dari biasanya dan aku menemukan sebuah kebahagiaan tercipta dari matamu dan wajahmu juga gerak tubuhmu. Aku kira kau bahagia karena aku. Aku kira aku penyebab senyum manismu yang terpajang sepanjang hari itu. Aku kira. Aku kira. Hanya perkiraan, bukan?
Aku sadar kemudian bahwa aku bukan penyebab sinaran matamu itu. Bukan aku. Tapi dia. Benarkah? Mata kalian berbeda, boy. Aku bisa membacanya. Sinarnya sama dengan sinarku. Bedanya, sinarku tak bisa terpantulkan tapi berbias tak berbekas.
Kami pergi bertiga;aku, kamu, dan dia. Lucu sekali rasanya. Sesaknya mulai terasa, boy. Aku hanya tak bisa melihatmu dengannya. Kenapa bukan aku penyebab dari sinar matamu itu? Kenapa?
Kami berhenti di sebuah kedai makanan. Mengunjungi sebuah meja untuk bertiga. Seakan sejalan, aku memilih sebuah kursi yang sendirian di hadapan kursi yang berdua. Aku tidak tahu kenapa aku memilih itu. Lalu duduklah kau dan dia di hadapanku.
Sesaat aku menyesal. Kalian lebih sibuk bercengkrama berdua dan mengabaikanku. Haruskah aku jadi satu-satunya orang yang terabaikan?
Aku menatapmu terus-terusan;tentu saja kau tidak menyadarinya. Senyum simpul ku ciptakan di hatiku. Aku bahagia memilih tempat ini karena di tempat ini aku bisa menatapmu sepuasnya. Aku bahagia untuk duduk di hadapanmu.
Kau menatapku sesaat. Mencoba membuatku masuk diantara garismu dan garisnya. Tapi aku tahu, aku sedang melakukan kesalahan.
Rasanya salah untuk menjadi terlihat seperti orang ketiga. Tapi kalian sendiri tidak memiliki status yang jelas, kan? Lalu aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan hatimu, kan?
Aku menatap kalian yang sibuk bercengkerama lagi. Aku hanya diam di hadapanmu. Kenapa tadi tidak ku pilih saja kursi itu? Kenapa tidak ku pilih saja duduk di sebelahmu? Kenapa aku harus memilih duduk di hadapanmu?

Jika aku memilih duduk di sebelahmu, aku tidak bisa puas memandang wajahmu, tuan.
Maka aku memilih duduk di hadapanmu agar bisa puas memandang wajah bahagiamu itu. 
Jika aku memilih duduk di sampingmu, aku tidak tahu ekspresi yang sedang kau sembunyikan, tuan.
Maka aku memilih duduk di hadapanmu agar aku bisa tahu segala ekspresi yang kau ciptakan.
Karena aku lebih memilih duduk di hadapanmu, yang kemudian hanya bisa menatap segala yang kau sedang lakukan.
Karena aku lebih memilih duduk di hadapanmu yang kemudian sadar kau bisa bahagia di hadapanku walaupun bukan aku yang mendampingimu.
Kau boleh bahagia meski bukan aku yang ada di sampingmu, tuan. Tapi tolong biarkan aku ada di hadapanmu untuk menatap segala yang kau lakukan dan membaca apa yang sedang kau rasakan. 
Jangan segan bercerita jika orang yang ada di sampingmu menyalahgunakanmu, tuan. 
Aku setia menanti di hadapanmu.
Kemudian, tataplah masa depanmu yang ada di hadapanmu, tuan;bukan yang ada di sampingmu.

Monday, May 6, 2013

Monday, April 29, 2013

Saturday, April 20, 2013

Aku Mulai Terbiasa

Ponselku berdering kala itu, menunjukkan satu nama, dia. Segala canda kami ciptakan. Aku tersenyum dalam segala tulisan yang ia berikan. Aku terhenyak dan kemudian aku menyadari sebuah rasa yang sudah terlalu lama tak ku rasakan.

Dia membuatku lupa dengan masa laluku. Sejenak. Meski kadang ia datang dan membuat suasana sendu lagi seperti sebelumnya. Dia membuat pikiranku bergeser ke arahnya, tidak selalu menatap masa laluku, meski hanya sejenak tapi cukup membuat rinduku seakan meluap.

Setiap hari ponselku berdering, namanya tertera begitu saja di layar ponselku. Setiap hari, tanpa cela, dia hadir menghampiriku, membuatku lupa akan luka masa lalu. Aku mulai terbiasa.

Setidaknya, aku mulai terbiasa akan dering ponsel yang membawaku ke obrolan bersamanya. Setidaknya, aku mulai terbiasa akan canda tawa yang ia berikan padaku. Setidaknya, aku mulai terbiasa akan kenyamanan yang terselip di segala pesan yang ia berikan. Aku mulai terbiasa.

Harapan itu datang lagi. Harapan yang tercipta sama persis ketika aku mengenalnya dulu, dia--masa laluku. Harapan itu datang lagi. Rasa itu terselip lagi diantara kegiatan yang kini menjalar menjadi kebiasaanku, berbincang dan melepas canda bersamanya. Harapan itu datang lagi.

Tiba-tiba pikirannya terbesit di otakku. Bagaimana jika dia hanya pelarianku? Setidaknya, aku tidak mau ada orang yang tersakiti akan ulahku.
Tiba-tiba pikirannya terbesit di otakku. Bagaimana jika dia tidak mencintaiku juga?
Lantas sia-sialah rasa yang mulai berkembang di jiwaku ini.
Tiba-tiba pikirannya terbesit di otakku. Bagaimana jika aku akan sakit lagi?

Sekiranya, aku sudah mulai terbiasa akan segala kehadirannya di hidupku. Sekiranya, aku sudah mulai terbiasa.

Wednesday, April 17, 2013

Kemalanya Datang Lagi

Air matanya tiba-tiba terjatuh
Menyeruak masuk bersamaan dengan kemala
Hatinya berteriak seakan menolak
Aku tidak mau kemala itu masuk lagi

Jantungnya berdebar beribu kali lebih cepat
Memorinya berputar ke masa-masa lalu
Kemalanya datang lagi
Hatinya tidak bisa mengelak

Matanya merapat
Berharap menutup semua yang telah terjadi
Hatinya bergejolak
Kemalanya semakin dekat

Helaan nafasnya terdengar menggebu
Merasakan sesuatu merasuki dirinya
Namanya kemala
Namanya rindu
dan Dia sadar bahwa rindu memasuki dirinya lagi
dan Dia sadar otaknya mengulang memori itu lagi