Showing posts with label my. Show all posts
Showing posts with label my. Show all posts

Friday, July 4, 2014

[SongFic] Sakit Hati by Yovie and Nuno

Ku tahu engkau pasti tahu
Betapa hancurnya aku

Masih ingat hari dimana kau mengirimku pesan bahwa kau tidak akan pernah mencintaiku? Aku yakin kau tahu hari itu aku terluka. Aku yakin hari itu kau tahu aku merasa hancur. Hanya saja aku tahu bahwa kau tak akan pernah ingin tahu dengan perasaanku padamu selanjutnya.

Bunga yang dulu begitu indah
Perginya entah ke mana

Ku akui kau begitu indah hingga aku terjatuh begitu cepat. Hingga aku pun merasakan kepergianmu terasa begitu cepat. Setelah dua tahun mengenalmu, kau tinggalkan aku sendirian, dan entah kapan kembali lagi. Butuh empat tahun untuk melupakanmu namun senyatanya tak pernah ada hasilnya.

Dulu ku tak pernah menduga kau memberi harapan palsu
Genggam tangan dan senyuman itu, seolah memikat hati

Dulu, kau selalu menghubungiku terlebih dahulu. Bertanya kabarku, menghiburku, berkeluh kesah dan bercerita apapun yang ingin kau ceritakan. Membuatku merasa bahwa aku adalah orang yang kau percaya. Membuatku merasa bahwa aku adalah orang yang kau butuhkan. Senyatanya, kau hanya menganggapku tak lebih dari teman--teman curhat. Dan aku tahu, kau memang tak pernah memberikan harapan padaku, hanya saja aku yang terlalu besar kepala dengan perilakumu.

Aku sakit, Aku sakit hati
Kau terbangkanku ke awan lalu jatuhkan ke dasar jurang
Aku sakit, dan ku tak mengerti
Kau berikan mimpi indah 
Namun kenyataan tak seindah mimpi
Sadar kini cinta tak berbalas

Friday, April 11, 2014

Dorabojima, Jebal Juseyo

Sudah kubilang jangan datang lagi ke hidupku. 
Karena kau hanya akan menyisakan luka dan membiarkanku kembali.
Kembali ke sebuah rasa yang seperti fatamorgana.
Yang membuatku seolah mendengarmu memanggil namaku.
Yang nyatanya tidak sama sekali.

Sore itu, tak ada perasaan macam-macam dalam benakku--biasa saja. Sampai akhirnya aku mengambil ponselku yang kutelantarkan begitu saja beberapa akhir ini. Sekali lagi, tak ada rasa apa-apa sebelum kubuka aplikasi chatting yang menampilkan namamu di layar ponselku.

Untuk sesaat aku tertegun. Membaca berkali-kali untuk memastikan namamu benar-benar muncul, memastikan bahwa ini sungguhan--sungguhan kau yang menghubungiku duluan setelah beberapa bulan.

Lagi.
Kita berbincang lagi dalam percakapan singkat itu. Seperti biasa, tak ada kata macam-macam yang kau keluarkan. Seperti biasa, jangankan menanyakan perasaanku, menyinggung keadaanku saja tak pernah kau lakukan. Kita hanya berbincang, percakapan yang cukup tak penting, yang membuatku berputar otak lagi berpikir mengapa kau harus menghubungiku jika yang kau tanya hanya masalah sepele seperti itu.
Tapi, seperti biasa, kau selalu membuat yang biasa menjadi tidak biasa.
Tapi, bukan itu yang ingin kubahas kali ini. Melainkan mengenai usahaku yang sia-sia lagi. Usahaku tentang melupakanmu.

Aku sudah berniat melupakanmu. Berjanji tak akan menyinggungmu lagi dalam obrolan sehari-hariku. Berjanji mengubah genre tulisanku dari zona-zona yang biasa kulakukan--friendzone, one sided love.
Berjanji bahwa untuk sekarang aku benar-benar serius untuk melupakanmu. Karena aku sudah dalam ambang batas kejenuhan. Hanya saja, aku tahu aku memang lemah--kau sapa begitu saja membuyarkan semua usaha yang sudah kubangun susah payah, dan kini memori itu perlahan tapi pasti datang lagi. Menjamur dalam hatiku dan tak mau pergi lagi.

Sudah kubilang berapa kali,
aku sudah menyuruh rasa itu pergi
tapi ia selalu tinggal
dan aku tak punya alasan untuk menyuruhnya tak tinggal.

Kini, kau berhasil membuatku kembali, Ke angan-angan penuh harapan itu. Yang sulit terbuang. Yang kembali hanya karena sentilan sebuah obrolan. Kalau saja lain waktu aku berpikir untuk meninggalkanmu lagi, kumohon, jangan hampiri aku meski hanya selintas. Kumohon, jangan datang ke hidupku lagi meski hanya dalam mimpi.

Sunday, March 9, 2014

Love Dust

Karena kenangan cinta itu seperti debu.
Karena melupakan itu seperti menyapu.

Aku kembali dengan setumpuk kenangan yang ingin hilang. Meski mereka berdesakan minta kembali tapi aku kokoh berdiri mengusir mereka lagi. Tiba-tiba berbagai pemikiran tentang kenangan dan melupakan masuk menelusup ke hati dan pikiranku.
Kenangan cinta itu seperti debu.
Melupakan itu seperti menyapu.
Kenapa bisa begitu?
Jika diibaratkan, hati itu seperti rumah. Dan hatiku itu seperti rumah kosong yang berdebu dan kumuh. Dan tumpukkan debu itu adalah kenangan cintanya. Rumah itu kosong tak berpenghuni, jelas saja, mana ada orang yang mau datang ke rumah yang penuh debu? Artinya, mana ada orang yang mau singgah pada hati yang masih memiliki kenangan pada masa lalunya?

Aku berdiri berusaha menyapu, menghilangkan debu yang menumpuk selama tiga tahun belakangan ini. Meski lelah, aku harus tetap menyapunya hingga bersih. Kerja keras itu tak lain adalah kerja keras untuk melupakan. Cara move on paling ampuh adalah menghapus kenangan, segala kenangan.

Lalu tiba-tiba usaha move on itu gagal. Sama seperti kita sudah mulai menyapu rumah penuh debu itu, hingga sudah cukup bersih hingga ada seseorang yang mau singgah dan datang. Tapi aku lelah menyapu, jadi aku duduk untuk mengambil nafas barang sejenak. Dan orang-yang-mau-masuk itu melihat tumpukkan debu lagi yang belum sempat kusapu, dan orang itu keluar lagi. Dan aku mulai lelah seterusnya, dan debu-debu itu datang lagi memenuhi rumahku. Rumahku kumuh lagi.

Semangat move on itu datang lagi. Aku berusaha menyapu lagi. Menyapu kenangan-kenangan itu yang sudah mengerak. Satu bulan, dua bulan, dan rumahku sudah mulai bersih. Hanya saja, debu akan selalu datang meski aku menyuruhnya untuk pergi.

Kini, kenangan tentangnya masih singgah di hati. Aku punya niat untuk melupakan, tapi rasanya dayaku terlalu sedikit meski hanya untuk berdiri. Debu itu memasuki pernapasanku, masuk menelusuk ke trakea hingga bronkus lalu masuk ke alveolus, masuk ke pembuluh darah dan merusak semuanya. Berusaha dikeluarkan tapi terlalu sulit untuk melakukannya. Debu kenangan itu menelusup hingga kapilerku, masuk ke jantung dan terus berputar mengelilingi tubuhku, tak mau keluar. Mereka sudah terlanjur merusak, dan aku hanya diam mencoba menikmatinya.

Tuesday, December 24, 2013

Missing Thing

Hallo, aku kembali setelah berminggu-minggu tidak memposting apapun. Maklumlah, sebagai pelajar SMA yang terlalu biasa jadi beberapa minggu terakhir aku selalu sibuk dengan tugas-ulangan-ujian-remedial.
Menyambut datangnya liburan akhir tahun yang baru saja aku jalani selama 3 hari, membuatku berpikiran untuk menulis blog lagi. Awalnya, aku tidak punya minat untuk memposting akhir-akhir ini. Sembari meratapi blogku yang setahun belakangan ini terisi dengan tulisan-tulisan absurd membuatku ingin memposting sebuah tulisan yang hello-this-is-anin.
Rasa bosan yang menggangguku sejak tadi pagi membuatku iseng untuk membuka beberapa blog milik teman-temanku. Hingga akhirnya aku 'tersangkut' pada sebuah postingan milik temanku, Dyah Febrina atau Febi atau Kukun, yang sebenarnya sudah diposting setahun yang lalu bahkan sebelum kami masuk SMA. Postingan itu membuatku merasakan sebuah rasa yang aneh. Serasa flashback pada masa-masa SMP kami dan menimbulkan rindu-rindu itu.
Tentu saja kali ini aku tidak ingin memposting tentang siswa-baru-pada-masa-kelas-delapan itu. Hanya saja, mengingat masa-masa SMP itu membuatku merasa aneh dan lucu.
Bagaimana pada kelas pertama sewaktu masa SMP bukanlah tahun yang baik bagiku. (rasanya aku tidak perlu banyak cerita mengenai ini karena aku sendiri tidak ingin mengenangnya)
Lalu beranjak ke tahun kedua yang membuatku mengerti banyak hal--cinta, persahabatan, persaingan sekolah, organisasi, jatuh bangun meraih nilai.
Hingga akhirnya aku sampai pada tahun terakhir masa SMP. Tahun yang menurutku begitu sulit untuk dideskripsikan. yang membuatku begitu rindu untuk mengulangnya meski enggan untuk dilakukan. Aku hanya rindu bagaimana kelasku waktu itu berdagang bersama, studytour, ujian bersama-sama, tes masuk SMA, saling mendoakan masing-masing, dan beberapa kekompakkan yang belum aku temukan dalam kelas-kelas berikutnya setelah kelas itu.
Terkadang, aku merasa kehilangan beberapa sosok teman yang terlalu unik dalam kelas itu. Yang pada kehadirannya aku masih belum merasakan sesuatu yang spesial dari mereka, tapi ketika mereka jauh aku merasakan bahwa aku benar-benar merasa kehilangan dan aku benar-benar merindukan mereka.
Hanya saja, jika aku boleh memilih, aku ingin kembali ke masa-masa itu.

Thanks to Febi Kukun for let me to read the post and makes me feel soooo missing you.
Serenade, I don't know how but I missed you.
Especially Febi Kukun, Nita Uti, Renisa, Lulu, Corinna, and Iswa.

Sunday, October 27, 2013

Yoon Chanyoung

Halo, setelah mulai tergila-gila dengan sebuah drama yang sedang booming dan bertabur bintang berjudul The Heirs (SangSokJaDeul) saya mulai tersadar saya memang gila (dari dulu deh kayanya).
Ketika semua orang yang nonton The Heirs berfokus pada cerita dan main castnya, Lee Minho (Kim Tan) dengan Park Shin Hye (Cha Eun Sang), saya sendiri lebih berfokus pada second couple Kang Min Hyuk (Yoon Chan Young) - Jung Krystal (Lee Bo Na). of course because I'm a Lovely Gaze so I'll focus on Minhyuk.
Tapi alasan saya ingin posting di sini sekarang adalah....
I had fallen in love with Yoon Chanyoung.
Kenapa?
Bukan karena Minhyuk-nya (Sebenarnya itu alasan klasik ya kalo saya mau bilang suka Chanyoung karena Minhyuk. Tentu saja saya akan suka Chanyoung karena peran itu dimainkan oleh idola saya.) Tapi lebih tepatnya karena sifatnya.
Yoon Chanyoung di drama ini dikisahkan sebagai cowok pinter, baik hati, pacar yang baik, imut (pastilah Minhyuk kan imut), sahabat yang baik, meskipun bukan orang kaya raya seperti teman-temannya.
Nah loooh dari penjelasan di atas saya sangat tertarik dengan cowok pinter, pacar yang baik, dan sahabat yang baik.
Berhubung Chanyoung di drama ini diceritakan sebagai siswa kelas 11 (dan sekarang saya juga siswa kelas 11/2 SMA), pikiran saya kemudian melambung  jauh di awang(?).
Seandainya Yoon Chanyoung itu teman satu sekolah saya, bahkan teman satu kelas saya, kemudian menjadi sahabat yang baik bagi saya, kemudian saya yakin saya akan move on ke dia. [Berhubung Chanyoung hanya peran fiksi dan diceritakan sudah jadi pacar Lee Bona (Jung Krystal), saya nggak jadi move on deh *alibi]
Mau tahu Yoon Chanyoung kaya gimana?
Ini dia, cii ganteng (?) pacarnya Lee Bonanin....
Ganteng Kaaaaaannn


Chanyoung meluk Bona. Meluk akunya kapan?


Omo, Minhyuk-kie or Chanyoung-ah?


Chu~:*


Friday, October 25, 2013

BFF = Bad Friend Forever?

She did something that I never expected before

That night, an absurd and the worst night that I never had, I said something and heard something.
I feel so disappointed of my self and someone. Someone that i thought My BFF. Best Friend Forever. But, guess?

I just being hurted with that people. Such being a backstabber. Someone's backstabber on me. And that one was my BFF. Then now I know what is BFF means....
Bad Friend Forever.
And now I merely know who is that one. That one who never worthy to be the real of BFF means. The one who hurts me not only once.

So, BFF had many meaning, huh?
The real one was Best Friend Forever.
Now, It's going to be Bad Friend Forever, Backstabber Friend Forever, BloodyHell Friend Forever, etc

Maybe it was enough for me. I have to beware of 'choosing' friend. Because your friends not always being a real friend used to be. Because they can hurt you slowly. Because they can be your biggest enemy.

Saturday, August 24, 2013

You

Kisah tentang cintaku dengan siswa baru pada masa sekolah menengah pertamaku, entah kapan akan selesai.
Aku masih ingat posting pertama yang ku tujukan kepadanya adalah Coup De Foudre yang ku tulis 10 hari setelah bertemu dengannya. Sebuah posting yang ku tulis dengan grammar bahasa inggris yang sangat acak-acakan--maklum, aku masih kelas 2 smp waktu itu. Bagaimana kisah itu mulai berawal dan menjadi setumpuk cerita melebihi novel tebal yang pernah ku baca, menjadi setumpuk kata yang tak bisa ku ungkapkan.
Sampai pada posting-ku yang sekarang, tulisanku masih tertuju untuknya.
Aku tidak tahu sampai kapan aku menulis segala cerita tentang kisah cintaku yang mengalun seperti balada bersama siswa baru itu.
Mungkin tak ada posting terakhir.
Mungkin juga akan ada posting terakhir tentang kisah kami.
Mungkin aku ingin posting terakhir itu akan bercerita bagaimana Cinta Pada Pandangan Pertama-ku itu berujung bahagia setelah bertahun-tahun lamanya.
Halo, Juli 2010, aku ingin mengulang kisah itu. Aku ingin memperbaikinya dan menjadikannya ending bahagia. Lalu aku tahu itu tak mungkin, sekarang aku ingin tetap menjadikannya ending yang bahagia.

Tahun Ketiga dan Tahun Pertama

Akhir-akhir ini pikiranku kacau ketika membayangkan wajahmu. Perasaan lelah mulai ku rasakan. Apa aku sudah lelah menunggu?
Ini adalah tahun ketiga aku menyukaimu. Menunggumu untuk sadar bagaimana aku sudah jatuh hati padamu semenjak pertama kali mataku memandangmu. Di pinggir kaca pintu kelas dua sekolah menengah pertama, dan segala kenangan selama setahun berada di sampingmu adalah hal yang tak akan kulupakan.
Awalnya ku kira menunggu bertahun-tahun tak akan ada hal yang berpengaruh dalam hidupku. Mungkin aku hanya perlu diam, menunggumu datang, menyambutmu kembali--itupun jika kau ingin aku menyambutmu, lalu akan datang di mana cintaku akan berlabuh bahagia. Tapi ternyata menunggu tidak semudah itu.
Cintaku tidak terluapkan, rinduku tidak tersampaikan, kau tahu juga tidak, bukan?
Lalu aku sempat berpikir, mengapa aku masih menunggumu? Di saat mungkin saja kau di sana tak pernah memikirkan aku barang selintas. Apa Anin masih mencintaiku?
Walau tak pernah ada kata terucap langsung dariku bahwa aku mencintaimu, terlalu mustahil kau tidak tahu bahwa aku pernah memendam rasa.
Setelah menunggu 3 tahun lamanya ditambah Setahun penantian untuk kembali bertemu, aku merasa ganjil pada rasaku. Apa yang telah aku perbuat selama ini untukmu, apa ada timbal balik baik bagiku? Apa ada balasan untukku?
Lalu sadarku datang, bahwa kata mereka cinta memang seperti itu. Cinta datang meski tak diminta, cinta akan hinggap meski sudah disuruh pergi.
--Jangan pernah tanyakan berapa kali aku menyuruh rasa itu pergi, aku sudah berusaha tapi dia datang lagi. Dan aku tidak punya alasan untuk tidak menyuruhnya tetap tinggal.

Pada Tahun Ketiga setelah pertemuan kita dan Tahun Pertama setelah perpisahan kita, cintaku mulai meragu.

Thursday, June 20, 2013

I Will Miss Them #3

It must be the 3rd seasons of "I Will Miss Them" after I tell you about my previous class, Pesta&Serenade. Now, I'm going to tell you about my class, my beloved class, the first class on senior high school, the unpredictable class, Sedan81.
What is Sedan81? Who is Sedan81? I will tell you more now.

Monday, June 3, 2013

Datanglah

Setahun berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin kita saling kenal, rasanya baru kemarin kau membuatku jatuh hati, rasanya baru kemarin kau dan aku saling berbagi cerita, dan sudah setahun kau meninggalkanku.
Wajahmu masih terbayang jelas di memoriku, tuan. Bagaimana matamu membentuk sebuah senyuman saat kau tersenyum. Bagaimana matamu menyorot tajam tapi hangat setiap aku mengajakmu berbicara. Bagaimana mataku mencari bayangku yang tidak ada di sorotan matamu.
Secercah rasa bahagia menyelinap dalam hatiku untuk mengetahui bahwa kau masih mengingatku. Meski hanya sebatas teman. Tapi, untuk mengetahui kau masih ingat saja, ini sudah cukup untukku, Tuan.
Terus ingat aku, tuan. Sebagai temanmu yang bisa menerima kamu apa adanya. Sebagai temanmu yang siap sedia menerimamu. Kemudian kau akan ingat aku sebagai seseorang yang menaruh harap padamu. Kemudian kau akan ingat aku sebagai seseorang yang menunggumu. Kemudian kau akan ingat aku yang selalu mencintaimu.
Kemudian, berbaliklah, tuan.
Datanglah. Pertemuan kita akan sangat berarti meski jika Tuhan hanya memberi kita waktu yang sempit. Datanglah. Walau seandainya hatimu tetap tidak bisa ku miliki, ku mohon datanglah.
Datanglah. Meski hanya sebatas menatap matamu barang sebentar. Datanglah. Meski yang ingin ku dengar lebih dari apa yang ku harapkan.
Mungkin harapanku terlalu muluk untuk memintamu untuk datang. Jika keberatan, mengapa Tuhan tidak pertemukan kita sebentar saja? Aku hanya butuh melihat keadaanmu sebentar dan mendengar suaramu memanggil namaku dengan tegas seperti biasanya.
Datanglah. Jika takdirku bukan dirimu kau boleh pergi lagi. Lalu aku tidak akan mengharapmu lagi. Tapi kumohon datanglah. Meski hanya satu kali. Meski kemudian Tuhan bisa ambil nyawaku, karena yang aku ingin adalah melihatmu satu kali lagi. Tersenyum dan memanggil namaku, Anindityas.
Karena hanya dirimu yang memanggil nama depanku dengan lengkap.

Wednesday, May 29, 2013

Fatamorgana

Aku berjalan di ruang yang sepi tanpa henti. Aku sendiri disini, tanpa tahu arah berjalan tanpa henti. Kemudian dari kejauhan tampak sosok yang begitu sangat ku kenal. Aku melihatmu. Berdiri disana dengan tegas memandangku sembari tersenyum. Dengan tulus hati, ku balas senyumanmu. Kau lambaikan jemarimu memintaku untuk mendekat. Tentu saja, dengan senang hati, aku mendekat.
Kemudian kedua alisku mengerut tidak mengerti. Mengapa sosokmu semakin menjauh? Kau terus memintaku mendekat, tapi disaat aku mencoba mendekat mengapa kau mengambil langkah ke depan untuk jarak yang lebih jauh? Aku terus mencoba dan tak mengerti. Ku kira akhirnya kau akan berhenti dan membiarkanku berjalan mendekatimu.
Lama-lama kakiku lelah juga. Kau terus seperti itu. Melambai, meminta, dan menjauh.
Namanya fatamorgana.
Aku tersadar bahwa sosokmu yang ada di jauh sana hanya fatamorganaku. Sama seperti genangan air pada gurun pasir yang panasnya lekat. Terlihat nyata padahal hanya sebuah fiksi;tidak nyata. Akhirnya aku berhenti. Masih memandangmu lekat kemudian aku berkedip dan kau menghilang begitu saja dari pandanganku.
Aku berbalik menatap tapakan jalan yang telah ku lewati sebelumnya. Aku pulang lagi menyusuri jalan itu dan tidak mau meneruskan lagi perjalanan anehku. Namun suaramu membuat nyaliku ciut lagi. Suara nyaringmu terus memanggil namaku. Aku sempat berpikiran untuk kembali mengejarmu namun tidak. Kau hanya sebuah fatamorgana.
Aku kemudian terus melanjutkan langkahku pulang sebelum pikiranku berubah dan semakin gila mengejar bayangan fatamorganamu yang tidak pernah jadi nyata.

Thursday, February 9, 2012

Don't Go, Really Please

I'm just heading up, try to make these tears don't fall
I'm just smiling, try to hide all the hurts in everybreath that I take
I just can't stop this,
Can't stop loving you.

I just can't believe that you have to go.
And don't know where and when we will meet again.
Please don't go, please don't leave me
Don't say good bye to me


Can we back to 13th July 2010?
If I could back to this time,
I promise, I'd never love you