Showing posts with label my story. Show all posts
Showing posts with label my story. Show all posts

Thursday, February 15, 2018

Untukmu yang Menggenggam Tanganku Sore Itu

Untukmu,
yang menggenggam tanganku sore itu.
Kuucapkan terima kasih, 
karena sudah melindungiku, menemaniku, dan bersamaku.

Untukmu,
yang menggenggam tanganku sore itu.
Kuucapkan terima kasih,
karena telah menghadirkan kembali kupu-kupu yang telah mati di rongga abdomenku.

Untukmu,
yang menggenggam tanganku sore itu.
Sedikitnya membuatku berharap lagi,
jangan beri aku harapan yang fana, karena sesungguhnya aku sudah benar-benar lelah.

Untukmu,
yang menggenggam tanganku sore itu.
Jika sekiranya tulus,
bolehkah setidaknya memberiku kejelasan?
Agar hatiku tak patah jika jatuh, karena sesungguhnya aku sudah benar-benar lelah.

Untukmu,
yang menggenggam tanganku sore itu.
Jangan kira aku telah membuka hatiku seluas samudera,
sedangkan kau masih mengetuk pintu selemah bisikan.

Friday, April 17, 2015

For My Dearest Exorcist81


Hi, long time no see my bloggie~ it had been several months from my last posting (sampe lupa post terakhir apa kkk). So, in this posting I want to tell you more about Exorcist81. Exorcist81 is the name of my class since I was on the eleventh grade, so we had been together since august 2013. Actually, I really want to posting about them so bad since some months ago, especially when we officially being the twelfth grade, but i don't have any enough time huhu (because I always post about my previous class, you could check it on my previous posts, but being the twelfth grade is so hard for me to post anything here) so here, after almost 2 years together, in the end of twelfth grade, I want to post something for them.
Exorcist81 is Extraordinary Scince Styri (Styri is 4), because we are from IPA 4. We are consist of 34 student, 18 girls and 16 boys. Check them out :

Friday, July 4, 2014

[SongFic] Sakit Hati by Yovie and Nuno

Ku tahu engkau pasti tahu
Betapa hancurnya aku

Masih ingat hari dimana kau mengirimku pesan bahwa kau tidak akan pernah mencintaiku? Aku yakin kau tahu hari itu aku terluka. Aku yakin hari itu kau tahu aku merasa hancur. Hanya saja aku tahu bahwa kau tak akan pernah ingin tahu dengan perasaanku padamu selanjutnya.

Bunga yang dulu begitu indah
Perginya entah ke mana

Ku akui kau begitu indah hingga aku terjatuh begitu cepat. Hingga aku pun merasakan kepergianmu terasa begitu cepat. Setelah dua tahun mengenalmu, kau tinggalkan aku sendirian, dan entah kapan kembali lagi. Butuh empat tahun untuk melupakanmu namun senyatanya tak pernah ada hasilnya.

Dulu ku tak pernah menduga kau memberi harapan palsu
Genggam tangan dan senyuman itu, seolah memikat hati

Dulu, kau selalu menghubungiku terlebih dahulu. Bertanya kabarku, menghiburku, berkeluh kesah dan bercerita apapun yang ingin kau ceritakan. Membuatku merasa bahwa aku adalah orang yang kau percaya. Membuatku merasa bahwa aku adalah orang yang kau butuhkan. Senyatanya, kau hanya menganggapku tak lebih dari teman--teman curhat. Dan aku tahu, kau memang tak pernah memberikan harapan padaku, hanya saja aku yang terlalu besar kepala dengan perilakumu.

Aku sakit, Aku sakit hati
Kau terbangkanku ke awan lalu jatuhkan ke dasar jurang
Aku sakit, dan ku tak mengerti
Kau berikan mimpi indah 
Namun kenyataan tak seindah mimpi
Sadar kini cinta tak berbalas

Friday, April 11, 2014

Dorabojima, Jebal Juseyo

Sudah kubilang jangan datang lagi ke hidupku. 
Karena kau hanya akan menyisakan luka dan membiarkanku kembali.
Kembali ke sebuah rasa yang seperti fatamorgana.
Yang membuatku seolah mendengarmu memanggil namaku.
Yang nyatanya tidak sama sekali.

Sore itu, tak ada perasaan macam-macam dalam benakku--biasa saja. Sampai akhirnya aku mengambil ponselku yang kutelantarkan begitu saja beberapa akhir ini. Sekali lagi, tak ada rasa apa-apa sebelum kubuka aplikasi chatting yang menampilkan namamu di layar ponselku.

Untuk sesaat aku tertegun. Membaca berkali-kali untuk memastikan namamu benar-benar muncul, memastikan bahwa ini sungguhan--sungguhan kau yang menghubungiku duluan setelah beberapa bulan.

Lagi.
Kita berbincang lagi dalam percakapan singkat itu. Seperti biasa, tak ada kata macam-macam yang kau keluarkan. Seperti biasa, jangankan menanyakan perasaanku, menyinggung keadaanku saja tak pernah kau lakukan. Kita hanya berbincang, percakapan yang cukup tak penting, yang membuatku berputar otak lagi berpikir mengapa kau harus menghubungiku jika yang kau tanya hanya masalah sepele seperti itu.
Tapi, seperti biasa, kau selalu membuat yang biasa menjadi tidak biasa.
Tapi, bukan itu yang ingin kubahas kali ini. Melainkan mengenai usahaku yang sia-sia lagi. Usahaku tentang melupakanmu.

Aku sudah berniat melupakanmu. Berjanji tak akan menyinggungmu lagi dalam obrolan sehari-hariku. Berjanji mengubah genre tulisanku dari zona-zona yang biasa kulakukan--friendzone, one sided love.
Berjanji bahwa untuk sekarang aku benar-benar serius untuk melupakanmu. Karena aku sudah dalam ambang batas kejenuhan. Hanya saja, aku tahu aku memang lemah--kau sapa begitu saja membuyarkan semua usaha yang sudah kubangun susah payah, dan kini memori itu perlahan tapi pasti datang lagi. Menjamur dalam hatiku dan tak mau pergi lagi.

Sudah kubilang berapa kali,
aku sudah menyuruh rasa itu pergi
tapi ia selalu tinggal
dan aku tak punya alasan untuk menyuruhnya tak tinggal.

Kini, kau berhasil membuatku kembali, Ke angan-angan penuh harapan itu. Yang sulit terbuang. Yang kembali hanya karena sentilan sebuah obrolan. Kalau saja lain waktu aku berpikir untuk meninggalkanmu lagi, kumohon, jangan hampiri aku meski hanya selintas. Kumohon, jangan datang ke hidupku lagi meski hanya dalam mimpi.

Sunday, March 9, 2014

Love Dust

Karena kenangan cinta itu seperti debu.
Karena melupakan itu seperti menyapu.

Aku kembali dengan setumpuk kenangan yang ingin hilang. Meski mereka berdesakan minta kembali tapi aku kokoh berdiri mengusir mereka lagi. Tiba-tiba berbagai pemikiran tentang kenangan dan melupakan masuk menelusup ke hati dan pikiranku.
Kenangan cinta itu seperti debu.
Melupakan itu seperti menyapu.
Kenapa bisa begitu?
Jika diibaratkan, hati itu seperti rumah. Dan hatiku itu seperti rumah kosong yang berdebu dan kumuh. Dan tumpukkan debu itu adalah kenangan cintanya. Rumah itu kosong tak berpenghuni, jelas saja, mana ada orang yang mau datang ke rumah yang penuh debu? Artinya, mana ada orang yang mau singgah pada hati yang masih memiliki kenangan pada masa lalunya?

Aku berdiri berusaha menyapu, menghilangkan debu yang menumpuk selama tiga tahun belakangan ini. Meski lelah, aku harus tetap menyapunya hingga bersih. Kerja keras itu tak lain adalah kerja keras untuk melupakan. Cara move on paling ampuh adalah menghapus kenangan, segala kenangan.

Lalu tiba-tiba usaha move on itu gagal. Sama seperti kita sudah mulai menyapu rumah penuh debu itu, hingga sudah cukup bersih hingga ada seseorang yang mau singgah dan datang. Tapi aku lelah menyapu, jadi aku duduk untuk mengambil nafas barang sejenak. Dan orang-yang-mau-masuk itu melihat tumpukkan debu lagi yang belum sempat kusapu, dan orang itu keluar lagi. Dan aku mulai lelah seterusnya, dan debu-debu itu datang lagi memenuhi rumahku. Rumahku kumuh lagi.

Semangat move on itu datang lagi. Aku berusaha menyapu lagi. Menyapu kenangan-kenangan itu yang sudah mengerak. Satu bulan, dua bulan, dan rumahku sudah mulai bersih. Hanya saja, debu akan selalu datang meski aku menyuruhnya untuk pergi.

Kini, kenangan tentangnya masih singgah di hati. Aku punya niat untuk melupakan, tapi rasanya dayaku terlalu sedikit meski hanya untuk berdiri. Debu itu memasuki pernapasanku, masuk menelusuk ke trakea hingga bronkus lalu masuk ke alveolus, masuk ke pembuluh darah dan merusak semuanya. Berusaha dikeluarkan tapi terlalu sulit untuk melakukannya. Debu kenangan itu menelusup hingga kapilerku, masuk ke jantung dan terus berputar mengelilingi tubuhku, tak mau keluar. Mereka sudah terlanjur merusak, dan aku hanya diam mencoba menikmatinya.

Sunday, October 27, 2013

Yoon Chanyoung

Halo, setelah mulai tergila-gila dengan sebuah drama yang sedang booming dan bertabur bintang berjudul The Heirs (SangSokJaDeul) saya mulai tersadar saya memang gila (dari dulu deh kayanya).
Ketika semua orang yang nonton The Heirs berfokus pada cerita dan main castnya, Lee Minho (Kim Tan) dengan Park Shin Hye (Cha Eun Sang), saya sendiri lebih berfokus pada second couple Kang Min Hyuk (Yoon Chan Young) - Jung Krystal (Lee Bo Na). of course because I'm a Lovely Gaze so I'll focus on Minhyuk.
Tapi alasan saya ingin posting di sini sekarang adalah....
I had fallen in love with Yoon Chanyoung.
Kenapa?
Bukan karena Minhyuk-nya (Sebenarnya itu alasan klasik ya kalo saya mau bilang suka Chanyoung karena Minhyuk. Tentu saja saya akan suka Chanyoung karena peran itu dimainkan oleh idola saya.) Tapi lebih tepatnya karena sifatnya.
Yoon Chanyoung di drama ini dikisahkan sebagai cowok pinter, baik hati, pacar yang baik, imut (pastilah Minhyuk kan imut), sahabat yang baik, meskipun bukan orang kaya raya seperti teman-temannya.
Nah loooh dari penjelasan di atas saya sangat tertarik dengan cowok pinter, pacar yang baik, dan sahabat yang baik.
Berhubung Chanyoung di drama ini diceritakan sebagai siswa kelas 11 (dan sekarang saya juga siswa kelas 11/2 SMA), pikiran saya kemudian melambung  jauh di awang(?).
Seandainya Yoon Chanyoung itu teman satu sekolah saya, bahkan teman satu kelas saya, kemudian menjadi sahabat yang baik bagi saya, kemudian saya yakin saya akan move on ke dia. [Berhubung Chanyoung hanya peran fiksi dan diceritakan sudah jadi pacar Lee Bona (Jung Krystal), saya nggak jadi move on deh *alibi]
Mau tahu Yoon Chanyoung kaya gimana?
Ini dia, cii ganteng (?) pacarnya Lee Bonanin....
Ganteng Kaaaaaannn


Chanyoung meluk Bona. Meluk akunya kapan?


Omo, Minhyuk-kie or Chanyoung-ah?


Chu~:*


Friday, October 25, 2013

BFF = Bad Friend Forever?

She did something that I never expected before

That night, an absurd and the worst night that I never had, I said something and heard something.
I feel so disappointed of my self and someone. Someone that i thought My BFF. Best Friend Forever. But, guess?

I just being hurted with that people. Such being a backstabber. Someone's backstabber on me. And that one was my BFF. Then now I know what is BFF means....
Bad Friend Forever.
And now I merely know who is that one. That one who never worthy to be the real of BFF means. The one who hurts me not only once.

So, BFF had many meaning, huh?
The real one was Best Friend Forever.
Now, It's going to be Bad Friend Forever, Backstabber Friend Forever, BloodyHell Friend Forever, etc

Maybe it was enough for me. I have to beware of 'choosing' friend. Because your friends not always being a real friend used to be. Because they can hurt you slowly. Because they can be your biggest enemy.

Monday, October 21, 2013

First Love End [Inspired by K.Will's Song]

My first love has died, buried in my heart
It burned up my heart and became ash


Ponselku memutarkan sebuah lagu yang baru saja aku unduh semalam. Telingaku mendengarkan liriknya baik-baik. Perasaanku akhir-akhir ini sedang tidak baik-baik saja. Banyak sekali yang ingin ku ceritakan lewat lagu dan ku rasa lagu ini cukup tepat untukku.
Aku ingin bercerita tentang sebuah cerita yang bukan pertama kalinya aku tulis. Aku ingin berpindah hati. Kau tahu, bukan sesuatu yang mudah mempertahankan perasaan selama tiga tahun pada orang yang sama--orang yang bahkan tak pernah menganggapmu lebih dari hanya seorang teman. Kau tahu, aku sudah mati-matian menahan sakit dan aku ingin menyerah sekarang.

My first love has died, buried in my heart
It burned up my heart and became ash


Aku ingin menganggapnya sudah pergi jauh dan tak akan kembali lagi. Seperti menemui kematian seolah selama hidupku mendatang aku sudah tidak akan bertemu dengannya. 
Aku ingin cinta pertamaku mati. Mati terkubur dalam hatiku. Mati dan membiarkanku mencintai orang lain. Mengapa cintaku terlalu egois? Mengapa ia mengambil hatiku dengan cara seperti ini? Dengan kenyataan bahwa mencari pelarian saja tidak bisa lebih-lebih mencari pengganti.

My love that won’t ever come again, it’s you, it’s you
My first love has died


Aku hanya ingin menganggapnya seperti itu. Dia yang tak akan datang lagi dan dia yang seolah sudah mati. Maka aku akan melepasnya.
Kau tahu ini tidak mudah tapi mungkin ini salah satu cara yang bisa membuatku bisa melupakannya.

The person who became my hope for the first time
The person who became my despair for the first time
My love that won’t ever come again, it’s you, it’s you
My first love has died

Monday, October 14, 2013

I Started To Be Their Shipper

Long time no fangirling, now I'll telling you about something. Something which I never expected before. How I am being a shipper between Kang Min Hyuk - Jung Krystal.
This story began from the first time I read fanfictions. There were so many fanfictions that pairing them to be a couple. For the first time, I feel so angry because I thought they didn't match to be couple. Then, I started to write fanfictions and never pairing them. I always made Krystal to be the antagonist cast, not the main one.
Until Minhyuk casted My Husband Got A Family (2012 Korean Drama), he paired with Oh Yeon Seo to be couple and Minhyuk casted to be a playboy. My heart broken when I saw Minhyuk got a kissing scene so I decided to never let any woman idols to be paired with my beloved Minhyuk (lol)--absolutely with Krystal.
Day by day, there were so many people who support Minhyuk and Krystal to be a real couple (and my bestfriend, Nindy, was the one of them) and I felt like.. day by day I was being worse fan, a fanatic fan, and I felt like I was not good enough to be a fan.
Then, I read an article on internet which told that Minhyuk would play on K-Drama again and on that drama there was Krystal too. And I felt so Wow and expect that they wouldn't be on love line there. My heart got an attack when I read the next article which told that Minhyuk and Krystal would get a love line there and they would be second couple on that drama. Oh My God.
Last week, their drama was aired and I downloaded the video. I felt so hurt when I saw them. I only hope that someday they will not get kissing scene. But after that, I started to search the pictures both of them, and there is something weird.
I felt so happy to see Minhyuk smiled next to Krystal, I felt so happy to see them, they look alike, they look sweet together, and I realized that it was Yoon Chan Young (Minhyuk cast) and Lee Bona (Krystal cast) not really Minhyuk-Krystal. Then, I felt they cute to be together.
Such a karma, I started to love them. Then I realized that being fan not means that we must being a fanatic one. Being a fan means we must support our idols. Such a lesson to me, I tarted to be a better person.
Their K-Drama was The Heirs.

These are some picture of them, hope you like it ^^
( This for MinStal/HyukStal/MinJung/or anything else for Minhyuk-Krystal Shipper)
On 1st Episode between Bona-Chanyoung

At The Heirs Press Conferense [Last Week]







Tuesday, October 1, 2013

With Ballad Songs

Bersama alunan lagu I Need You milik Kim Sung Gyu, aku mulai menulis lagi.

Menulis tentang orang yang tak akan pernah ada bosannya ku ceritakan. Bahkan aku sudah lupa berapa kali aku menyebutkan kepada orang-orang bagaimana peristiwa pertemuan kami yang berimbas jadi cinta seperti ini terjadi. Bosan mungkin menurut kalian mendengarnya. Tapi entahlah, aku masih sangat tertarik untuk membahasnya lagi.
Alunan balada yang mengalun di telingaku seolah masuk ke dalam hatiku. Bagaimana Kim Sung Gyu berkali-kali menyebut kata I Need You dan rasanya aku ingin berteriak begitu juga kepadanya. Kepadanya yang tiga hari lagi akan datang ke kotaku yang sama sekali tak ku ketahui tujuannya, yang sama sekali tak ada perjanjian untuk bertemu dengannya, yang mungkin akan berdampak cukup buruk bagi mood-ku tiga hari mendatang.
Aku uring-uringan lagi. Menulis lagi dan melakukan hal-hal bodoh lagi sesaat sebelum aku tidur;mengkhayal akan bertemu dengannya, membayangkan wajahnya yang samar-samar sudah mulai ku ragukan masih sama seperti setahun yang lalu, dan mengkhayati setiap lagu-lagu balada yang berputar lewat daftar main musik pada ponselku.
Kubuka lagi sebuah buku kenangan masa sekolah menengah pertama yang ku letakkan di meja dan di baris buku paling depan--agar aku selalu bisa membacanya--fotonya terpampang di sana beserta kesan saat bersekolah di sekolah yang sama denganku. Fotonya yang terpasang satu halaman di belakang fotoku. Ku lihat senyum ringannya dan rindu itu menelusup paksa lagi. Tidakkah dia sadar bahwa aku lelah untuk bersikap seperti ini? Karena menatap wajahnya lewat foto hingga hari berlalu saja tak akan bisa menghilangkan rasa rinduku yang sudah terlanjur menumpuk seperti tumpukkan sampah yang ada di kota tinggalnya sekarang.
Perlahan, lagu yang ku dengar berubah menjadi If This Was A Movie milik Taylor Swift. Aku merutuki lagi mengapa semua lagu yang ku simpan hampir semuanya bercerita tentang cinta sebelah tangan. Bagaimana seluruh lagunya hampir bercerita tentang kisah kami. Bagaimana aku selalu mencari lagu-lagu balada terbaru untuk menyalurkan rasa rinduku.
Kemudian, dentingan lembut piano dari lagu So Close milik Jon Mclaughin menggema lagi dan membuatku ikut terhanyut lagi.
All that I wanted to hold you So Close...

Sunday, September 22, 2013

Saturday, September 14, 2013

Life with Half of Water

This story began last friday when I want to went to canteen but someone called me that I had called by teacher from B.K. Then, I and my friend, Faya, went to meet the teacher.
Then my teacher asked me, what my problem at that time. Actually, I'm not in a bad situation that day, but she told me that I have to said my problem. Because I don't want to tell about love story, So I start to tell that I wasn't confidence with my physics because I'm fat and I wasn't like the other student.
Then my teacher told to me that my situation can be described like a half of water on a glass. Then my teacher draws a glass with a half of water. Then she asked, " what do you think about it? " I keep my silent and actually I don't figured out her means. Then she continued, " If you have a glass of half water, what will you do?" I still silent and I ever thought that I will drink that water if I have it (?) but I don't think so with my mind. Then my teacher told me again, " Our life is like a half of water on a glass that we have. Then, there are 2 choices to make this water useful. First, you get mad with it because you only have a half, not full. So, you always angry, never say thanks with everything that you had. It same like you never accept yourself because yourself aren't perfect. Second, you say thanks to this although you only have a half. It same like you accept yourself with everything that you had. So, what will you choose?"
I answered, " the second choice."
Then my teacher smiled, " You just need to say thanks with everything that you had. Although your body weren't like a barbie but you have brain like a brilliant. That's more important than everything."

Saturday, August 24, 2013

You

Kisah tentang cintaku dengan siswa baru pada masa sekolah menengah pertamaku, entah kapan akan selesai.
Aku masih ingat posting pertama yang ku tujukan kepadanya adalah Coup De Foudre yang ku tulis 10 hari setelah bertemu dengannya. Sebuah posting yang ku tulis dengan grammar bahasa inggris yang sangat acak-acakan--maklum, aku masih kelas 2 smp waktu itu. Bagaimana kisah itu mulai berawal dan menjadi setumpuk cerita melebihi novel tebal yang pernah ku baca, menjadi setumpuk kata yang tak bisa ku ungkapkan.
Sampai pada posting-ku yang sekarang, tulisanku masih tertuju untuknya.
Aku tidak tahu sampai kapan aku menulis segala cerita tentang kisah cintaku yang mengalun seperti balada bersama siswa baru itu.
Mungkin tak ada posting terakhir.
Mungkin juga akan ada posting terakhir tentang kisah kami.
Mungkin aku ingin posting terakhir itu akan bercerita bagaimana Cinta Pada Pandangan Pertama-ku itu berujung bahagia setelah bertahun-tahun lamanya.
Halo, Juli 2010, aku ingin mengulang kisah itu. Aku ingin memperbaikinya dan menjadikannya ending bahagia. Lalu aku tahu itu tak mungkin, sekarang aku ingin tetap menjadikannya ending yang bahagia.

Tahun Ketiga dan Tahun Pertama

Akhir-akhir ini pikiranku kacau ketika membayangkan wajahmu. Perasaan lelah mulai ku rasakan. Apa aku sudah lelah menunggu?
Ini adalah tahun ketiga aku menyukaimu. Menunggumu untuk sadar bagaimana aku sudah jatuh hati padamu semenjak pertama kali mataku memandangmu. Di pinggir kaca pintu kelas dua sekolah menengah pertama, dan segala kenangan selama setahun berada di sampingmu adalah hal yang tak akan kulupakan.
Awalnya ku kira menunggu bertahun-tahun tak akan ada hal yang berpengaruh dalam hidupku. Mungkin aku hanya perlu diam, menunggumu datang, menyambutmu kembali--itupun jika kau ingin aku menyambutmu, lalu akan datang di mana cintaku akan berlabuh bahagia. Tapi ternyata menunggu tidak semudah itu.
Cintaku tidak terluapkan, rinduku tidak tersampaikan, kau tahu juga tidak, bukan?
Lalu aku sempat berpikir, mengapa aku masih menunggumu? Di saat mungkin saja kau di sana tak pernah memikirkan aku barang selintas. Apa Anin masih mencintaiku?
Walau tak pernah ada kata terucap langsung dariku bahwa aku mencintaimu, terlalu mustahil kau tidak tahu bahwa aku pernah memendam rasa.
Setelah menunggu 3 tahun lamanya ditambah Setahun penantian untuk kembali bertemu, aku merasa ganjil pada rasaku. Apa yang telah aku perbuat selama ini untukmu, apa ada timbal balik baik bagiku? Apa ada balasan untukku?
Lalu sadarku datang, bahwa kata mereka cinta memang seperti itu. Cinta datang meski tak diminta, cinta akan hinggap meski sudah disuruh pergi.
--Jangan pernah tanyakan berapa kali aku menyuruh rasa itu pergi, aku sudah berusaha tapi dia datang lagi. Dan aku tidak punya alasan untuk tidak menyuruhnya tetap tinggal.

Pada Tahun Ketiga setelah pertemuan kita dan Tahun Pertama setelah perpisahan kita, cintaku mulai meragu.

Jika Aku Boleh Meminta

Jika aku boleh meminta, maka aku akan memintamu suatu hal. Bukan hal yang muluk tapi cukup berarti bagiku. Bukan hal besar tapi terasa istimewa bagiku. Bukan apa-apa tapi berharga bagiku. Itupun kalau kau membolehkannya.

Jika aku boleh bertanya, ada satu pertanyaan yang mengusik relung hatiku untuk bertanya padamu. Pernahkah aku hadir dalam pikiranmu?
Jika jawabanmu tidak, sama seperti yang aku perkirakan, maka aku akan memintamu satu hal, itupun jika kau mengizinkan aku untuk memintanya.

Jika aku boleh meminta, maka aku akan memintamu untuk menyimpan namaku, memori tentangku, dan sedikit kenangan kita di hidupmu. Jika hidupmu terlalu luas untuk menerimaku, maka ku sarankan kau simpan saja aku hanya sebatas di hatimu. Jika sebuah hati masih terlalu lapang untuk kau bisa memikirkanku, maka simpan saja aku di sel-sel pikiranmu yang kecil tapi banyak. Jika semua itu masih terlalu muluk untuk ku minta, maka bisakah kau simpan memori tentangku walaupun hanya sebatas pada unsur terkecil dalam tubuhmu?
Sebuah unsur yang mungkin bisa lebih kecil dari sel, dari molekul, dari partikel, dan sebuah unsur yang paling kecil yang tak akan pernah bisa terbagi lagi.
Jika semua itu tak bisa kau terima, jika kau masih tak mau menyimpan memori tentangku sama sekali, maka aku akan melepasmu untuk pergi.
Jika suatu saat kita memang tidak pernah bertemu lagi, jika hari itu adalah hari terakhir aku bisa memandangimu, memandangmu lebih dekat, dan bertemu denganmu, jika suatu saat kau membaca tulisan kecilku ini, maka aku ingin kau jawab pertanyaan yang ku tulis di atas tadi dan aku ingin kau mengabulkan permintaanku.
Jika kau tetap tak bisa, maka mungkin ini semua sudah takdirnya.

Satu hal lagi jika hari itu adalah hari terakhir kita bertemu, kau hanya perlu tahu bahwa kau akan dan selalu ada pada bagian terbesar dalam tubuhku.
kadang, aku juga ingin kau simpan aku di sel-sel darahmu. yang mengalir terus selama kau hidup, dan bisa selalu kau ingat. Jika semua yang ku tulis bisa kau baca dan kau sadari, maka cintaku tidak akan sebalada ini

Thursday, June 20, 2013

I Will Miss Them #3

It must be the 3rd seasons of "I Will Miss Them" after I tell you about my previous class, Pesta&Serenade. Now, I'm going to tell you about my class, my beloved class, the first class on senior high school, the unpredictable class, Sedan81.
What is Sedan81? Who is Sedan81? I will tell you more now.

Monday, June 3, 2013

Datanglah

Setahun berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin kita saling kenal, rasanya baru kemarin kau membuatku jatuh hati, rasanya baru kemarin kau dan aku saling berbagi cerita, dan sudah setahun kau meninggalkanku.
Wajahmu masih terbayang jelas di memoriku, tuan. Bagaimana matamu membentuk sebuah senyuman saat kau tersenyum. Bagaimana matamu menyorot tajam tapi hangat setiap aku mengajakmu berbicara. Bagaimana mataku mencari bayangku yang tidak ada di sorotan matamu.
Secercah rasa bahagia menyelinap dalam hatiku untuk mengetahui bahwa kau masih mengingatku. Meski hanya sebatas teman. Tapi, untuk mengetahui kau masih ingat saja, ini sudah cukup untukku, Tuan.
Terus ingat aku, tuan. Sebagai temanmu yang bisa menerima kamu apa adanya. Sebagai temanmu yang siap sedia menerimamu. Kemudian kau akan ingat aku sebagai seseorang yang menaruh harap padamu. Kemudian kau akan ingat aku sebagai seseorang yang menunggumu. Kemudian kau akan ingat aku yang selalu mencintaimu.
Kemudian, berbaliklah, tuan.
Datanglah. Pertemuan kita akan sangat berarti meski jika Tuhan hanya memberi kita waktu yang sempit. Datanglah. Walau seandainya hatimu tetap tidak bisa ku miliki, ku mohon datanglah.
Datanglah. Meski hanya sebatas menatap matamu barang sebentar. Datanglah. Meski yang ingin ku dengar lebih dari apa yang ku harapkan.
Mungkin harapanku terlalu muluk untuk memintamu untuk datang. Jika keberatan, mengapa Tuhan tidak pertemukan kita sebentar saja? Aku hanya butuh melihat keadaanmu sebentar dan mendengar suaramu memanggil namaku dengan tegas seperti biasanya.
Datanglah. Jika takdirku bukan dirimu kau boleh pergi lagi. Lalu aku tidak akan mengharapmu lagi. Tapi kumohon datanglah. Meski hanya satu kali. Meski kemudian Tuhan bisa ambil nyawaku, karena yang aku ingin adalah melihatmu satu kali lagi. Tersenyum dan memanggil namaku, Anindityas.
Karena hanya dirimu yang memanggil nama depanku dengan lengkap.

It Had Been A Year

It had been a year i didn't meet you. How are you? How's your life? Do you find a happiness there?
I remember the last moment we met, last year, 3rd June 2012 on a farewell party.
I remember that day I wore a red kebaya and doing some make up on my face. I walked in with my high heels and smile to everybody. Then my eyes catched you so handsomely with grey tuxedo and blue-grey strips tie. I looked at you so deeply, althought I know you didn't realize at that time.
I looked at you, only looked at you, always looked at you. I tried to captured your face on my brain and my heart. I tried to captured your face on my mind. I knew that after that day I don't know where or when we will meet again. I looked at you and whispered to my self, please, looked at me too, D
My heart beated so fast when I knew that the farewell already ended. I tried to find you, just want to say a farewell words and got a picture with you. So unfortunately, I didn't find you at that time. I looked around again but I didn't find you. Then, I walked out from that place and go home with a disappointed feeling that I didn't get our picture and I didn't say good bye to you.
Day by day, week by week, month by month then this day had come. A year after the farewell party. A year I didn't meet you. A year I didn't hear your sound. A year I didn't look your face. But there is one thing that you had to know, I still captured your face on my mind. Always. I never forget your face, No, I won't.
It had been a year, Mr. So, should I wait you for two years, three years, and more long years? Should I? Maybe, I should.

Wednesday, May 29, 2013

Fatamorgana

Aku berjalan di ruang yang sepi tanpa henti. Aku sendiri disini, tanpa tahu arah berjalan tanpa henti. Kemudian dari kejauhan tampak sosok yang begitu sangat ku kenal. Aku melihatmu. Berdiri disana dengan tegas memandangku sembari tersenyum. Dengan tulus hati, ku balas senyumanmu. Kau lambaikan jemarimu memintaku untuk mendekat. Tentu saja, dengan senang hati, aku mendekat.
Kemudian kedua alisku mengerut tidak mengerti. Mengapa sosokmu semakin menjauh? Kau terus memintaku mendekat, tapi disaat aku mencoba mendekat mengapa kau mengambil langkah ke depan untuk jarak yang lebih jauh? Aku terus mencoba dan tak mengerti. Ku kira akhirnya kau akan berhenti dan membiarkanku berjalan mendekatimu.
Lama-lama kakiku lelah juga. Kau terus seperti itu. Melambai, meminta, dan menjauh.
Namanya fatamorgana.
Aku tersadar bahwa sosokmu yang ada di jauh sana hanya fatamorganaku. Sama seperti genangan air pada gurun pasir yang panasnya lekat. Terlihat nyata padahal hanya sebuah fiksi;tidak nyata. Akhirnya aku berhenti. Masih memandangmu lekat kemudian aku berkedip dan kau menghilang begitu saja dari pandanganku.
Aku berbalik menatap tapakan jalan yang telah ku lewati sebelumnya. Aku pulang lagi menyusuri jalan itu dan tidak mau meneruskan lagi perjalanan anehku. Namun suaramu membuat nyaliku ciut lagi. Suara nyaringmu terus memanggil namaku. Aku sempat berpikiran untuk kembali mengejarmu namun tidak. Kau hanya sebuah fatamorgana.
Aku kemudian terus melanjutkan langkahku pulang sebelum pikiranku berubah dan semakin gila mengejar bayangan fatamorganamu yang tidak pernah jadi nyata.

Saturday, May 25, 2013

Dimensi Tiga atau Cinta

Kisah kita jika digambarkan mungkin tidak jauh dari kisah garis yang bersilangan dalam bangun ruang dalam dimensi tiga

Aku dan kamu tidak lebih dari dua garis yang saling bersilangan. Dimana kau dan aku tidak bisa bertemu. Kau sibuk dengan garis vertikalmu dan aku sibuk dengan garis horisontalku.
Awalnya kita berada dalam satu garis. Namanya garis pertemanan. Tapi entah tiba-tiba titikku melanggar ke seberang. Aku salah untuk menyeberang tiba-tiba. Aku salah, aku akui itu. 
Ku kira, kita tetap punya ujung. Sama seperti garis FB yang akan bertemu dengan garis AB dalam kubus ABCD.EFGH di dimensi tiga. Ku kira seperti itu. Tapi tiga tahun menunggu, mengapa garisku tidak kunjung menemukan garismu? Kemudian aku sadar benar bahwa kita memang bersilangan. Garisku tetap akan jadi garis horisontal yang menganggap kita lebih dari persahabatan. Menganggapku selalu mencintaimu. Dan kau akan tetap jadi garis vertikal yang berada jauh di belakang garis horisontalku dan menganggap kita tidak lebih dari sekedar teman. 
Kita ada dalam satu ruang yang sama tapi entah, sebuah takdir membuat kita tidak bisa bertemu dan harus selalu bersilangan.