Showing posts with label fanfiction. Show all posts
Showing posts with label fanfiction. Show all posts

Tuesday, November 4, 2014

[Cerpen] Sweet Love of Mine

Sweet Love of Mine
Anindityas Rahmalia Putri
Angin lembut khas sore hari menyapaku di sore yang agak mendung ini. Membuatku mendongakkan kepala menatap langit berharap hujan tak turun lagi. Ku pandangi orang-orang yang berlalu lalang di setiap sisi, memperhatikan keramaian yang tetap membuatku seolah sendirian.

Thursday, June 12, 2014

Thank You

2 weeks ago,
I received info that I won FanFiction Competition as 4th winner. Thanks for all of support and blog's admins.
I know, my fanfiction wasn't good enough because it was only a classic-one-sided-love-story, because i enjoyed to wrote that kind of story, so, i only wrote that kind of story. Thus, being 4th winner is such a very very thankful for me. I felt so grateful because there were many people loved my story.
And, I'll tell something.
Thank you for Kang Minhyuk, because he'll be my one and only favorite main cast on my fanfictions 'til I won this competition kkkk /hug my hubbie/.
And
Thank you for you, My Inspiration. Who is him? ( I won't tell you kkk)
Thank you for him, because he is my inspiration in every story that i'd wrote. And you should know that our story winning a competition hahahaha. lol. I think you should ask me and see the story, Mister.

Wednesday, January 29, 2014

[Fanfiction] Step (Chapter 1)


Title : Step (Chapter 1)
Author : Minhyuk Anae
Length : Chaptered
Rating : PG-15
Genre : Romance
Cast :
-          Kang Minhyuk
-          Jung Krystal
-          Other Cast
Disclaimer : My own imagination
Note : This story is belong to Krystal-Minhyuk’s Shipper kkk~ Semoga ff ini bisa meluapkan rasa rindu kita semua sama Chanyoung-Bona ^^
-------------------------------------------------------***---------------------------------------------------------

Monday, September 2, 2013

[Fanfiction] The Promise


Title : The Promise
Author : Minhyuk’s Anae
Length : Oneshoot
Rating : PG-16
Genre : Romance, Friendship
Cast :
-          Wu Yi Fan (Kris)
-          Amber Liu
-          Jung Soo Jung (Krystal)
-          Kim Jonghyun
-          Other Cast
Note : Thank you if you read this. I’m so glad if you want to fill the comment and click the like button. My happiness is when all of you enjoy the story. Re-post : aninjustanin.blogspot.com .  This Fanfiction is belong to Kris-Ber Shipper.

Saturday, August 17, 2013

[Fanfiction] Honest or Prestige

Title : Honest or Prestige
Author : Minhyuk’s Anae
Length : Oneshoot
Rating : Teenager
Genre : Romance
Cast :
-          Jung Soo Jung (Krystal)
-          Kang Min Hyuk
-          Lee Taemin
-          Jung Yong Hwa
-          Other Cast
Disclaimer : Author’s pure imagination
Note : Thanks if you read this, I’m so glad if you want to fill the comment or click the ‘like’ botton. Re-post : aninjustanin.blogspot.com

Saturday, February 23, 2013

My Fanfiction : Mentariku Datang Lagi

Title : Mentariku Datang Lagi
Author : Minhyuk’s Anae
Length : Oneshoot
Genre : Romance
Rating : Teenager
Main Cast :
-          Park Seo Hee (OCs)
-          Kang Min Hyuk
-          Choi Jun Hong ( Zelo B.A.P)
-          Other Cast
Disclaimer : Author’s Real imagination
Note : I’m back! Re-post : minhyukanaefanfic.wordpress.com don’t forget to RCL! *wink*
Summary :
Ketika aku dan kamu tak pernah menjadi kita.
Ketika aku dan kamu yang tak pernah bisa selaras.
Ketika dia yang datang dan membuatku lupa.
Ketika kau datang lagi dan membuatku setengah frustasi.

Tuesday, February 5, 2013

My Fanfiction : Loving You


Title : Loving You 
Author : Minhyuk’s Anae
Rating : T
Genre : Friendship, Romance
Length : Oneshoot
Main Cast :
-          Park Jiyeon
-          Kang Min Hyuk
-          Lee Jin Ki aka Onew
Support Cast :
-          Han Eun Ji (OCs)
-          Other cast
Disclaimer : From author’s imagination. Pure My Imagination.
Note : re-post minhyukanaefanfic.wordpress.com . Happy reading! Don’t forget RCL~
----------------------------------------------***********------------------------------------------------------
Author POV
“ Jiyeonnie!” Teriak seseorang begitu Jiyeon baru sampai pintu kelasnya yang baru. 2 IPA 1. Jiyeon tersenyum begitu menyadari itu Eun Ji.
“ Kita sekelas lagi.” Lanjutnya lalu memeluk gadis itu.
“ Benarkah?” Eun Ji memberinya selembar kertas berisi absensi kelas. Jiyeon tersenyum mengetahui ia akan sekelas lagi dengan sahabatnya ini.
Mata Jiyeon tertarik pada tulisan berwarna merah pada absensi kelas. Kang Min Hyuk. Sebuah nama yang cukup asing di telinganya. Mungkin siswa baru, pikirnya dalam hati.
-***-
“ Nama saya Kang Min Hyuk, pindahan dari Jepang. Kalian bisa memanggil saya Minhyuk. Senang berkenalan dengan anda sekalian.” Ujar seorang namja yang Jiyeon tahu memang murid baru di kelas.
Setelah perkenalan itu, namja tadi duduk di bangku yang tidak terlalu jauh dari Jiyeon. Tiba-tiba Jiyeon menyadari sesuatu. Ada yang tidak beres dengan namja itu, aish bukan dengan namja itu tapi dengan pemikiran Jiyeon tentang namja itu. Jiyeon terus memperhatikannya.
“ Kamu kenapa? Gwaenchanhayo?” Tanya Eun Ji.
Gwaenchanha.” Jawab Jiyeon dan masih memperhatikan gerak-geriknya.
-***-
Jiyeon merebahkan tubuhnya sejenak dan menutup matanya. Ingatannya melayang ke arah seorang laki-laki, sahabat masa kecilnya, Lee Jin Ki. Ia pergi tepat 3 tahun lalu, pergi ke Amerika bersama keluarganya. Jinki, apa kabarmu sekarang?
Hari ini aku bertemu seseorang, Kang Minhyuk dan ia sangat mirip denganmu, Jinki. Jinki apakah itu kamu? Sepertinya tidak karena Minhyuk tak mengenaliku. Jinki kenapa setiap aku menatapnya aku selalu berpikiran itu dirimu? Jinki kenapa rasanya sama? Jinki, aku merindukanmu.
Kurasa Minhyuk dan Jinki memiliki beberapa persamaan. Entahlah itu apa tapi rasanya ada sesuatu yang sama dari mereka. Meski aku sadar betul Minhyuk bukan Jinki.
Minhyuk, Jinki, Minhyuk, Jinki. Argh, kenapa ini membuatku gila?
-***-
“ Permisi, apa namamu Park Ji Yeon?” Jiyeon menoleh,
“ Eh, iya, ada apa?”
“ Kim Seonsaengnim menyuruhku menemuimu. Tugas dari Kim Seonsaengnim.” Ujarnya memberikan sebuah flashdisk kepada Jiyeon.
“ Gomawo.” Ucapnya.
“ Eum, by the way, Kim Seonsaengnim berkata padaku katanya tugas yang ia berikan akan diselesaikan bersama-sama.” Ujarnya kelihatan err sedikit gugup.
“ Bersama-sama?”
“ Iya, tugas kelompok kita. Aku dan kamu.” Jawabnya. Jiyeon mengangguk. Merasakan ada sesuatu yang aneh dibalik penegasan kata “ Aku dan kamu.”
“ Bagaimana jika besok kita kerjakan bersama-sama?” Ajaknya.
“ Boleh.” Jawab Jiyeon membalas senyumannya.
Ia pergi dan secara spontanitas, Jiyeon sendiri tak tahu apa penyebabnya, ia memanggil namja tadi.
“ Minhyuk-ssi.” Panggilnya. Minhyuk menoleh,
“ Ya?”
Aniyo.” Jawabnya sambil menggelengkan kepala. Minhyuk hanya tersenyum dan berlalu pergi.
-***-
Menatap matanya membuatku tenang. Mendengar suaranya membuatku nyaman. Apa yang terjadi padaku? Kenapa rasanya sama seperti dekat dengan Jinki? Oh, Jiyeon, kau harus sadar bahwa Minhyuk bukanlah Jinki. Mereka berbeda.
“ Kenapa?” Tanya Minhyuk yang langsung membuyarkan semua lamunan Jiyeon.
“ Apanya yang kenapa?” Tanya Jiyeon balik yang terlihat kelimpungan.
“ Kau. Melamun. Apa sedang sakit?”
Aniya.”
“ Kau cukup mahir dalam kimia. Rasanya aku beruntung satu kelompok denganmu.” Puji Minhyuk dan yang pasti kedua pipi Jiyeon sekarang sudah memerah.
Gomawo, Minhyuk-ssi.”
“ Minhyuk saja. Terdengar tidak enak jika namaku dipanggil dengan embel-embel ‘ssi’ rasanya terlalu formal.” Protesnya tegas.
“ Baiklah, Minhyuk.”
Minhyuk tersenyum dan entah mengapa tangannya refleks mengacak rambut Jiyeon pelan. Membuat tubuh Jiyeon kaku dan bingung harus berbuat apa.
-***-
“ Jiyeonnie!” Jiyeon menoleh ke suara yang sedari tadi memanggil namanya.
Mwo? Jinki-ya! Omo! Jinki!” Serunya kaget mengetahui siapa yang memanggil namanya tadi. Lelaki itu mendekat dan memeluknya.
Jinki kini lebih tinggi dari 3 tahun lalu, wajahnya pun berubah menjadi lebih tampan.
“ Jinki, aku merindukanmu. Kapan kau kembali ke Korea?” Jinki hanya tersenyum dan tak membalas ucapan Jiyeon.
“ Jinki, di sekolahku ada siswa baru. Namanya Kang Minhyuk. Dia mirip sekali denganmu. Jinki, kenapa setiap aku di dekatnya aku merasa nyaman? Rasanya sama seperti ada di dekatmu. Oh, aniyo, bahkan terasa lebih nyaman. Jinki, mengapa setiap ada di dekatnya otakku berpikir kalau Minhyuk adalah kau? Jinki, mengapa jantungku berdebar saat dekat dengannya? Bahkan kemarin aku tak fokus dengan tugas kimiaku karena terus-terusan ada di dekatnya. Jinki, apa aku mencintainya? Tapi bukankah hatiku hanya untukmu?” Jiyeon memberhentikan ucapannya. Merasa telah kelewatan dengan ucapannya barusan. Karena memang selama ini Jinki tak pernah tahu ia memendam rasa padanya. Jiyeon sendiri tak mengerti kenapa dia bisa sefrontal ini.
“ Jinki, mengapa kau diam saja?” Tanya Jiyeon lagi sedikit mengguncang pundak laki-laki di hadapannya itu. Alih-alih menjawab, Jinki tetap pada kondisinya, tersenyum melihat Jiyeon. Tak menjawab satu pertanyaannya pun. Jinki menutup matanya dan perlahan apa yang ada di hadapan Jiyeon buyar.
“ Jinki!” Teriak Jiyeon terbangun dalam kondisinya yang setengah sadar. Mendapati dirinya berada dalam kamarnya. Tubuhnya berkeringat dan kepalanya pening.
“ Aish, hanya mimpi? Aku bahkan berharap aku bisa secepatnya bertemu Jinki.” Jiyeon memegang kepalanya yang terasa berat dan kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamarnya yang sudah gelap—karena lampunya sengaja dimatikan—dengan tatapan kosong. Mencerna apa yang baru saja terjadi di mimpinya.
Ia masih ingat betul kata-katanya yang mengatakan Jinki, apa aku mencintainya?
Mencintai Minhyuk? Yang benar saja. Jiyeon bahkan baru mengenalnya kurang dari 2 minggu. Intensitas mereka berbicara dan berkomunikasi pun masih terbilang sedikit. Satu lagi, sangat tidak lucu jika alasannya mencintai Minhyuk hanya karena Minhyuk mirip dengan Jinki. Tapi suara hatinya terus berkata, akan ada sesuatu yang terjadi diantara mereka. Ada sebuah rasa yang ia rasa lebih dari semua perasaannya terhadap Jinki.
Ya, Minhyuk dan Jinki berbeda. Begitupula perasaanku terhadap Minhyuk berbeda dengan perasaanku terhadap Jinki. Tuhan, bisakah kau bantu aku menemukan sebuah rasa yang rasanya menjadi teka-teki dalam hatiku?
-***-
“ Eun Ji-ya. Aku sedang bingung.” Ucap Jiyeon sedikit merengek manja ke arah Eun Ji.
Waeyo? Apa yang membuatmu bingung?”
“ Kau ingat Jinki, eo? Teman sd sekaligus smp kita.”
“ Eum…ya, aku ingat. Teman dekatmu kan? Cinta pertamamu juga?” Jiyeon melotot.
“ Hahaha, akui saja. Tentu saja aku ingat dengan Jinki. Orang yang selalu kau ceritakan. Wae?”
“ Apa kau pernah berpikiran di kelas kita ada seseorang yang mirip dengan dia?”
“ Minhyuk?” Tebak Eun Ji dan ya, tepat sasaran. Jiyeon mengangguk.
“ Kenapa? Apa kau berpikiran Jinki berubah seperti apa yang biasanya ada di sinetron atau drama tertentu dan sekarang wujud Jinki menjadi Minhyuk?”
“ Yak, itu tidak lucu, Han Eun Ji. Bukan itu maksudku.”
“ Lalu? Apa kau berpikiran Jinki hilang ingatan dan sekarang marganya berubah jadi Kang dan otomatis namanya juga berubah menjadi Minhyuk?” Jiyeon menghela nafasnya panjang.
“ Sepertinya aku salah bercerita dengan orang sepertimu, Eun Ji-ya. Setidaknya aku masih waras dan tidak berpikiran adegan tidak masuk akal pada sinetron-sinetron yang sudah kau tonton itu akan menjadi kenyataan.” Omel Jiyeon bergegas pergi tapi Eun Ji menahannya.
“ Hahahaha aku hanya bercanda, Yeonnie. Apa kau pikir aku segila itu? Hei, hidup itu jangan terlalu dibawa serius! Hahahaha.”
“ Jadi, apa yang akan kau ceritakan? Ada apa antara Minhyuk dengan Jinki?”
“ Aku…merasakan aku jatuh hati pada Minhyuk. Entahlah aku sendiri tak tahu kenapa. Setelah aku sadar betul Minhyuk mirip dengan Jinki. Hatiku selalu berdebar setiap melihat Minhyuk.”
“ Apa kau mencintai Minhyuk hanya karena Jinki?”
“ Pertanyaan yang tepat, Eun Ji-ya. Karena hatiku bertanya-tanya soal itu.”
“ Apakah rasanya sama?”
“ Berbeda. Sepertinya pada Minhyuk ada rasa yang jauh lebih dalam.”
“ Aku hanya mengingatkan, jangan sampai kau jatuh ke Minhyuk hanya karena Jinki. Itu hanya akan menambah rasa sakitmu.” Ujar Eun Ji menggenggam tangan Jiyeon. Menyiratkan simpatinya terhadap sahabatnya ini.
-***-
“ Han Eun Ji bilang untuk sementara waktu kau duduk denganku.” Jawab Minhyuk.
Jinjjayo?”
“ Astaga, Jiyeon. Kau tak percaya padaku?”
“ Percaya kok percaya. Duduk sini.” Ujarku menepuk bangku kosong di sebelahku.
Eun Ji, kau akan kubunuh karena berani-beraninya menyuruh Minhyuk duduk di sebelahku.
“ Yak, aku hanya ingin mengetest perasaanmu terhadap Minhyuk. Ini adalah salah satu cara agar kau tahu perasaanmu yang sebenarnya.” Ujar Eun Ji santai.
“Eun Ji, tapi aku gugup. Bahkan hanya mengangguk pun aku gugup.” Keluh Jiyeon.
“ Kau menyukainya, ku rasa.” Ujar Eun Ji. Jiyeon hanya melengos menatap ke arah lain, otaknya penuh dengan berbagai pikiran.
Menyukai Minhyuk, mencintai Minhyuk, menganggap Minhyuk sebagai Jinki, ketulusan rasanya terhadap Minhyuk, kenyamanannya untuk dekat dengan Minhyuk. Otak dan hatinya penuh dengan pikiran tersebut.
Kenapa ia begitu berlebihan menanggapinya? Bukan dirinya, tapi hatinya dan otaknya. Bekecamuk penuh hanya untuk menemukan sebuah perasaan aneh yang mulai mengganggu pikirannya.
Dulu, Jiyeon tak pernah peduli terhadap lingkungan baru yang tercipta di sekitarnya. Tapi kenapa dengan Minhyuk ia begitu peduli? Bahkan sekarang ia mulai mencari tahu diri Minhyuk yang sebenarnya. Kesukaannya, hobinya, kelebihannya. Kenapa Minhyuk membuatnya seperti ini?
Ditambah lagi sekarang ia sebangku dengan Minhyuk. Sifatnya yang kurang bisa menutupi apa yang sedang terjadi membuatnya takut. Takut Minhyuk tahu mengenai perasaan yang mulai tumbuh padanya. Takut setelah itu Minhyuk menjauh dan hal itu adalah hal yang dibenci Jiyeon. Sama seperti perpisahannya bersama Jinki beberapa tahun lalu.
“ Sesering itukah kau melamun?” Ujar Minhyuk sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah Jiyeon.
“ Hahaha ani. Akhir-akhir ini, sedikit lebih sering.” Jawab Jiyeon.
Wae? Ada masalah?” Jiyeon hanya menggeleng. Minhyuk tertawa kecil,
“ Aku terlalu kepo ya?” Tanya Minhyuk.
“ Gak juga, Hyukkie hahaha.” Jawab Jiyeon.
“ Hyukkie?”
Mianhae. Ku rasa panggilan itu cocok untukmu.”
Gwaenchanda. Hyukkie, panggilan yang bagus.” Ujar Minhyuk sedikit mengacak rambut Jiyeon.
“ Berminat ikut ke kantin?” Ajak Minhyuk. Jiyeon mengangguk.
“ Boleh.” Jawabnya mantap.
“ Kau mau pesan apa?” Tanya Minhyuk pada Jiyeon.
“ Jus strawberry.” Jawab Jiyeon.
Ahjumma, jus jeruk satu dan jus strawberry satu.” Pesan Minhyuk dan kami duduk di salah satu meja yang disediakan di kantin.
“ Kau…asli orang Jepang? Atau orang Korea yang pindah ke Jepang? Atau blasteran Korea-Jepang?” Tanya Jiyeon.
“ Kenapa memang?”
“ Cuma nanya.” Jawab Jiyeon santai.
“ Aku asli orang Korea, Ilsan tepatnya. Tapi ketika usiaku 6 tahun, Appa mendapat tugas untuk mengurus perusahaannya di Jepang. Aku jadi ikut pindah dan sekarang Appa mengelola perusahaannya di Korea.” Jiyeon hanya mengangguk-angguk sambil menyesap jus strawberrynya.
“ Aku punya teman, dia sangat mirip denganmu.” Entah apa penyebabnya, Jiyeon mulai mengungkit masalah itu lagi. Rasanya pernyataan tersebut membuat hatinya cukup lega.
“ Oh ya? Apa dia sekolah disini juga?” Tanya Minhyuk.
Ani. Dia di Amerika sekarang.” Jawab Jiyeon. Tersirat sedikit rasa bersalah mengungkit Jinki lagi. Minhyuk hanya mengangguk kecil.
Jiyeon, jangan mengungkit Jinki di depan Minhyuk. Kau harus ingat Minhyuk bukan Jinki. They are different.
-***-
“ Kau belum pulang?” Tanya Minhyuk saat ia kembali ke kelas untuk mengambil tasnya.
“ Belum. Aku sedang menyelesaikan project.” Jawab Jiyeon yang tetap berkutat dengan laptopnya.
“ Project?”
“ Project menulis.”
“ Menulis apa?” Tanya Minhyuk yang mulai tertarik. Minhyuk kembali menaruh tasnya dan mendekat ke arah Jiyeon.
“ Cerita pendek. Teenlit.” Jawab Jiyeon.
“ Wow, aku suka dengan yeoja yang suka menulis.” Ujar Minhyuk. Jiyeon spontanitas menatap Minhyuk ketika ia mengucapkan kata ‘suka’.
“ Apa aku boleh membacanya?” Tanya Minhyuk mendekat ke layar laptop Jiyeon.
Andwae! Ini belum selesai! Lagipula ini cerita perempuan.” Jawab Jiyeon menutup layar laptopnya. Bisa mati dia kalau Minhyuk tahu ia sedang menulis pengalamannya bersama Minhyuk. Meski mereka baru mengenal selama 1 bulan.
“ Cerita perempuan? Mana ada cerita dibatasi berdasarkan jenis kelamin hahaha.” Tawa Minhyuk mengambil tasnya dan beranjak keluar.
“ Hyukkie!”
Ne?” Minhyuk menghentikan langkahnya.
“ Kau…mau kemana? Mau pulang?” Tanya Jiyeon.
“ Aku ingin ke ruang musik. Latihan drum. Mau ikut?”
Anniyo. Aku masih mau menyelesaikan project ini.” Jawab Jiyeon menunjuk-nunjuk laptopnya.
“ Aku duluan, ne? Annyeong!” Jiyeon melaimbaikan tangannya sambil tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya. Mencoba fokus kepada tulisannya lagi.
Jiyeon melangkahkan kakinya di halaman sekolah yang sudah mulai sepi. Ia teringat Minhyuk, apa Minhyuk sudah pulang?
Jiyeon terus melangkahkannya sampai halte bus.
“ Berminat pulang bersama, Ny. Park?” Seseorang menghampiri Jiyeon. Menepuk jok belakang sepedanya.
“ Memangnya kau pulang kemana, Mr. Kang?” Sambut Jiyeon.
“ Apartement dekat Myeongdeong. Ayolah, kita pulang bersama juga.” Jiyeon bangun dan hatinya melawan otaknya yang menolak.
“ Baiklah. Perumahan dekat Han Kang.” Jiyeon duduk di belakang Minhyuk dan menepuk pundak Minhyuk.
Hati Jiyeon berdebar. Terasa seperti kisah pada fanfiction yang ia tulis. Ini untuk pertama kalinya ia berboncengan dengan seorang laki-laki. Minhyuk mengayuh sepedanya lebih kuat, membuat Jiyeon spontan mencengkeram seragam Minhyuk dan segera melepasnya lagi.
Spontan dan argh Minhyuk, kau harusnya bertanggung jawab atas perbuatanmu yang membuat jantungku berdebar 1000000x lebih kencang.
“ Gomawo, Hyukkie.” Ucap Jiyeon begitu mereka sampai di depan gerbang rumah Jiyeon.
“ Cheonmaneyo. Senang bisa mengantarkanmu.” Balas Minhyuk.
“ Mau ke mampir dulu?”
“ Hmm, lain kali aku akan mampir, Yeonnie. Hari sudah cukup sore. I have to leave first.”
“ Baiklah, Josimhaneun.” Ucap Jiyeon melambai-lambaikan tangannya.
Ne. Daaah.” Ucap Minhyuk kembali mengayuh sepedanya meninggalkan Jiyeon. Jiyeon menatap Minhyuk yang lama-lama menjauh.
Minhyuk, neoneun nae simjangeun dugeun dugeun tteolyeowa.
-***-
Jiyeon tersenyum menatap layar handphonenya. Alih-alih membalas, yang ia lakukan justru tersenyum dan memandanginya.
From : Kang Min Hyuk
Hi, Ny. Park. Kau sedang apa? Tiba-tiba aku memikirkanmu dan project yang kau buat tadi siang. Aku…penasaran dengan ceritanya.
Jiyeon membaca ulang bagian “ Tiba-tiba aku memikirkanmu” dan terkekeh pelan. Sudut wajahnya memanas, mungkin wajahnya sudah memerah sekarang.
To : Kang Min Hyuk
Sebegitu penasarannya kah kau dengan projectku, Tuan Kang? Aku kurang yakin drummer sepertimu menyukainya
Meski jika dibaca selintas, plot yang Jiyeon buat tak terlalu mencirikan cerita itu mirip dengan kejadiannya dengan Minhyuk. Tetap saja ia malu.
From : Kang Min Hyuk
Memangnya kenapa? Kau belum tahu aku drummer melankolis? Hahaha menyedihkan memang. Tapi aku suka teenlit. Setidaknya aku juga punya hobi yang sama sepertimu, meluangkan waktu untuk menulis cerita karangan remaja.
Jiyeon tercengang, Minhyuk suka menulis juga?
To : Kang Min Hyuk
Benarkah? Aku jadi penasaran seperti apa cerita yang kau buat, Tuan Kang.
From : Kang Min Hyuk
Kau penasaran? Aku juga. Tidak mau tahu, besok temui aku dan bawa plot itu. Aku penasaran dengan isinya!
To : Kang Min Hyuk
Hyukkie, besok itu hari minggu. Kau lupa?
From : Kang Min Hyuk
Besok memang hari minggu. Kenapa memangnya? Apa ada peraturan yang melarang kita bertemu di hari minggu? Besok aku akan menjemputmu, bersiap-siap pukul 9 pagi.
To : Kang Min Hyuk
Menjemputku?
From : Kang Min Hyuk
Ne! ayolah, kita refreshing sebentar. Setidaknya kau tidak harus selalu berkutat dengan kimia yang menjadi kesukaanmu itu. Berada di dekatmu membuat hatiku tenang.
Jiyeon tercengang menatap pesan terakhir yang Minhyuk berikan. Hatinya berguncang. Antara senang dan sedih. Senang dengan pernyataan-pernyataan Minhyuk yang seolah memberi lampu hijau untuknya. Sedih karena ia takut perasaannya terhadap Minhyuk belum sepenuhnya ia mantapkan.
Handphone-nya kembali berdering. Sebuah panggilan masuk dari Kang Minhyuk.
“ Yeoboseyo.”
“ Yeonnie, kenapa kau tak membalas pesanku?” Protes Minhyuk dari seberang. Jiyeon terkekeh pelan mendengar celotehan Minhyuk yang terbilang cukup kekanak-kanakan, tapi Jiyeon suka ^^
“ Ah, jeongmal mianhae, Hyukkie. Aku masih sedang mengetik untuk membalasnya.”
“ Oh, arasseo. Jadi bagaimana? Besok aku jemput, eo?” Ajak Minhyuk.
Ne.” Jawab Jiyeon.
“ Jam 9 kau harus sudah siap! Awas saja telat.” Ancam Minhyuk.
“ Iya iya Minhyuk cerewet.” Ledek Jiyeon.
Mwoya? Kau meledekku? Aish.”
“ Kau memang cerewet, Hyukkie.”
“….”
“ Hyukkie, kau masih disitu?” Panggil Jiyeon karena beberapa detik mereka saling diam.
“ Iya, aku masih disini. Ingat jam 9 dan bawa plot-mu.”
by the way, memangnya besok kita akan pergi kemana?”
“ Rahasiaku, Ny. Park.” Ujar Minhyuk.
“ Baiklah.”
“ Apa kau sudah makan?”
“ Belum dan sepertinya tidak. Ini sudah pukul 7 malam.”
“ Kau harus makan, Ny. Park.”
“ Kalau aku makan malam-malam. Nanti aku akan gemuk.”
“ Memangnya kenapa kalau kau gemuk? Aku bahkan tidak peduli.”
“ Maksudmu?”
Aniyo, abaikan. Kau harus makan, nanti kalau penyakit maagmu kambuh bagaimana.”
“ Aku tak punya penyakit maag, Hyukkie.”
“ Ya…siapa tahu kan kalau keseringan telat makan.” Jawab Minhyuk yang lama-lama terlihat semakin tidak jelas.
“ Hm, yasudah. Kututup duluan ne teleponnya?”
“ Iya.”
“ Jangan lupa makan, Yeonnie. Besok pukul 9 dan bawa plot.”
“ Iya, Tuan Kang aku ingat.”
Bye.”
Bye.” Jiyeon menutup sambungan teleponnya.
Ia menatap teleponnya aneh. Aneh dengan perlakuan Minhyuk malam ini. Mereka terlihat seperti sepasang….
Ah, tidak, aku tidak boleh terlalu kepedean. Siapa tahu Minhyuk hanya peduli padaku dan tidak lebih dari itu?
-***-
Jiyeon terlihat gusar. Padahal jamnya masih menunjukkan pukul 08:45. Ditangannya sudah menggenggam tas dengan isi handphone, dompet, dan plot cerita pendeknya.
“ Jiyeon, ada temanmu diluar. Namanya Kang, aduh Kang siapa ya? Eomma lupa.” Panggil Eomma dari luar kamar.
“ Kang Min Hyuk, Eomma!”
“ Ah, iya! Kang Min Hyuk.”
“ Eomma, aku pamit ya. Mau pergi dulu dengan Minhyuk.”
“ Sampai jam berapa?”
Mollaseo.”
“ Baiklah, Josimhaneun.”
Ne, Eomma.” Jiyeon mengecup pipi Eomma-nya lalu bergegas keluar.
“ Hyukkie, Kajja!
-***-
Minhyuk’s POV
Mataku membalas tatapan seorang yeoja yang memang sedari tadi menatapku. Apakah aku aneh? Rasanya tidak juga.
Namanya Park Ji Yeon. Seorang yeoja yang baik hati, pintar dalam pelajaran kimia, membuatku nyaman di dekatnya.
Aku sendiri tidak benar-benar sadar kapan aku mulai menyukainya. Mungkin semenjak pertama kami bertatapan, atau mungkin semenjak tugas kimia, atau mungkin semenjak kami duduk bersama. Aku bahkan berterima kasih kepada Han Eun Ji yang dengan kebaikan hatinya mau merelakan aku duduk dengan sahabatnya itu.
Menatapnya setiap aku ada disampingnya merupakan salah satu anugerah terindah bagiku. Melihat senyum dan tawanya yang lepas membuatku merasa nyaman. Bisa berada disampingnya membuatku bahagia. Tapi, aku ingin yang lebih dari ini.
Meski aku sendiri tak begitu yakin Jiyeon punya perasaan yang sama sepertiku. Bahkan, jika ia tak punya perasaan padaku, aku bersedia memberinya waktu bahkan sampai 10 tahun atau lebih. Memberinya waktu sampai ia membuka hatinya untukku.
Terdengar menggelikan memang. Aku baru mengenalnya kurang lebih 1 bulan tapi hatiku seakan benar-benar memantapkan rasaku untuknya.
Jiyeon, nan neol saranghae~
-***-
Eotteohkae?” Tanya Jiyeon menyadari perubahan wajah Minhyuk setelah membaca karangannya.
“ Bagus. Aku cukup terbawa suasananya.”
“ Hahaha yang benar saja, Hyukkie. Membaca sebuah plot di tengah keramaian seperti ini bisa membuatmu terbawa?”
“ Mungkin karena latarnya kebanyakan di Han Kang dan sekarang kita sedang di Han Kang. Aku jadi terbawa.”
By the way, kenapa terlalu banyak lokasi di Han Kang?”
“ Aku terinspirasi dari Han Kang. Memandang arusnya yang tenang dan memang cukup terbawa dari beberapa drama yang ku tonton membuat Han Kang memiliki nilai khusus untukku. Aku bahkan beruntung eomma dan appa memilih rumah yang lokasinya tak terlalu jauh dengan Han Kang.” 
“ Apa cerita ini terinspirasi dari kisah hidupmu?”
“ Tidak juga. Namun terkadang aku berharap kisahku berakhir bahagia seperti plot yang aku buat hahahaha.”
“ Apa kau sedang jatuh cinta?”
“ Kenapa memangnya, Hyukkie?”
“ Entahlah, feeling-ku mengatakan plot yang kau buat seperti menggambarkan kisah pribadimu.”
“ Mungkin.  Mungkin aku sedang jatuh cinta.” Jawab Jiyeon pelan.
“ Hyukkie, bagian mana yang menjadi favoritemu?” Tanya Jiyeon berusaha mengalihkan pembicaraan.
“ Ketika laki-laki bernama Kwon Chul Jae menembak Lee Hyo Min ditepi Han Kang.” Jawab Minhyuk sambil tersenyum.
“ Hahaha aku juga suka part itu.”
“ Apa kau berharap akan ada seseorang yang menembakmu di Han Kang?”
“ Sedikit, jika ada hahaha. Tapi aku tidak yakin ada.” Jawab Jiyeon sedikit berdebar. Jiyeon tertawa menutupi rasa canggungnya.
“ Jiyeon, aku mencintaimu.” Ucap Minhyuk.
Jiyeon terdiam. Tubuhnya melemas. Entah senang ataupun sedih. Matanya membalas tatapan Minhyuk.
Will you be my girlfriend?” Tanya Minhyuk. Seperti plot yang sudah ia buat, seorang laki-laki, yang sebenarnya itu Minhyuk dengan beberapa perubahan, menyatakan perasaan terhadap seorang gadis, yang sebenarnya itu dirinya dengan beberapa perubahan.
Entah kenapa hatinya gusar. Seperti yang sudah ia katakan sebelumnya. Hatinya ragu. Ia menyukai Minhyuk tapi ia takut ia belum tulus. Meski lama-lama ia sadar perasaannya terhadap Jinki hanya sebatas persahabatan. Meski lama-lama ia sadar perasaannya terhadap Minhyuk terasa jauh lebih dalam. Tapi ia butuh waktu.
“ Hyukkie, apa aku boleh meminta waktu untuk menjawabnya?” Minhyuk tersenyum mengangguk.
“ Berapa lamapun, aku akan selalu menunggu jawabanmu.”  Jawab Minhyuk.
-***-
Gomawo, Hyukkie. Mau ke dalam dulu?” Tanya Jiyeon begitu sampai depan gerbang rumahnya.
“ Lain kali saja, Jiyeon.”
“ Hyukkie, aku akan memikirkan jawabannya baik-baik.”
Ne. Jangan terlalu dipikirkan, kau bisa menjawabnya kapan saja.”
Mianhae, Hyukkie.”
“ Hush, sudah. Tidak ada yang salah.” Ujar Minhyuk mengusap kepala Jiyeon sebentar.
“ Aku duluan, ne? Annyeong.”
Ne.”
Jiyeon melangkahkan kakinya dan membuka gerbangnya, matanya terbelalak menemukan siapa yang ada di dalam ruang tamu rumahnya.
“ Jinki?”
“ Hai, Yeonnie. Kau sudah pulang? Akhirnya. Aku sudah menunggumu selama 2 jam.” Ujar Jinki seraya memeluk Jiyeon yang masih diam mematung.
“ Apa kabarmu?” Tanya Jinki yang kini mulai berjalan ke arah pekarangan belakang rumah Jiyeon, bersama Jiyeon juga tentunya.
“ Baik. Kau?”
“ Baik juga. Hei, apa kau tidak merindukanku?” Tanya Jinki yang menyadari sikap Jiyeon yang biasa saja. Tak seceria 3 tahun lalu.
“ Merindukanmu? Tentu saja, ayam!” Jawab Jiyeon lalu tertawa. Mulai membiasakan diri lagi dengan kehadiran Jinki.
Gamsahamnida, Park Ahjumma.” Ucap Jinki begitu Eomma memberi mereka minuman dan beberapa makanan ringan.
Eomma, kenapa kau tidak bilang hari ini Jinki datang?”
“ Jinki meminta Eomma merahasiakannya, Jiyeon.” Jawab Eomma lalu berlalu pergi.
“ Benarkah?” Tanya Jiyeon masih memikirkan perkataan Eomma-nya tadi. Jinki mengangguk sambil menyesap teh hangatnya.
“ Aku begitu merindukan Korea dan kau tentunya hahaha.” Ujar Jinki sambil mencubit Jiyeon. Jiyeon hanya tersenyum.
Entah apa yang terjadi pada hatinya, yang pasti hatinya tak seberbunga-bunga dulu. Ia merasa biasa saja ada di dekat Jinki. Bahkan ketika Jinki mengatakan ia merindukannya pun terasa sangat flat. Pikirannya melayang ke kejadian tadi malam, ia rasa hatinya semalam lebih berbunga-bunga dibandingkan sekarang. Apakah artinya….?
“ Kau akan tinggal di Korea lagi, Jinki-ya?” Tanya Jiyeon membuka percakapan yang sempat terhenti. Mengubah atmosfer yang mulai canggung menjadi tidak.
Ani. Sekolahku libur 2 minggu.” Jawab Jinki.
“ Berarti kau hanya akan ada disini selama 2 minggu, eo?” Tanya Jiyeon sedikit kecewa.
Ani. Hanya 1 minggu. 1 minggu lagi aku akan membereskan keperluan sekolahku di Amerika.” Jawab Jinki.
“ Kenapa? Kau masih merindukanku ya? Atau kau sangat takut kehilanganku?”
“ Aish, apa yang kau bicarakan Jinki-ya? Hahahaha.”
“ Aku ingin mengajakmu ke Lotte World. Tapi kapan ya? Seminggu ini kau full sekolah kan?”
“ 3 hari lagi aku libur. Tanggal merah.”
“ Baiklah. Kita kesana nanti.”
-***-
Jiyeon melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Hatinya berdebar mengetahui hari ini dia harus bertemu Minhyuk, duduk disamping Minhyuk, dan dia belum sempat memikirkan jawaban pertanyaan kemarin.
Hati Jiyeon bergetar melihat Minhyuk sedang tertawa bersama teman-temannya yang lain. Jika ia menerimanya, ia takut salah ambil keputusan dan nanti akan menyakiti Minhyuk. Jika ia menolaknya, Minhyuk akan sakit dan dia sendiri akan sakit menerima keputusan tersebut. Jiyeon….dilema.
“ Hi, Jiyeonnie.” Sapa Minhyuk begitu Jiyeon duduk disampingnya. Jiyeon hanya tersenyum membalas sapaan tersebut. Suasana canggung dan Jiyeon tahu Jiyeon yang membuat segalanya canggung.
Jiyeon mencintai Minhyuk tapi Jinki? Argh, mengapa Jinki harus datang disaat ia harus memutuskan sesuatu.
“ Kau kenapa?” Tanya Minhyuk sambil membereskan buku-bukunya di meja, waktu pulang.
Gwaenchanhayo?” Tanya Minhyuk sambil meletakkan telapak tangannya ke kening Jiyeon.
Nan gwaenchanha, Hyukkie.” Jawab Jiyeon sambil tersenyum.
“ Apakah soal kemarin membuatmu khawatir? Maaf…” Ucap Minhyuk.
“ A? Bukan, Hyukkie. Justru aku yang minta maaf karena belum memberimu jawaban, belum untuk hari ini.” Ujar Jiyeon.
“ Harus kubilang berapa kali, Yeonnie? Aku tak menuntutmu memberimu jawaban secepatnya. Kau bisa menjawabnya kapan saja dan jangan terlalu pikirkan aku. Pikirkan perasaanmu, itu lebih penting menurutku. Geogjeonghajima.” Minhyuk tersenyum sambil mengusap puncak kepala Jiyeon.
Gomawo, Hyukkie. Gomawo sudah mengorbankan perasaanmu demi perasaanku.” Ujar Jiyeon tersenyum, masam. Minhyuk mengangguk sambil tersenyum, membuat kedua matanya hilang (lagi), sesuatu yang paling Jiyeon suka semenjak mereka bertemu, dan Minhyuk memilih pergi dari kelas untuk pulang.
-***-
“ Jiyeon, kau mau main apa lagi?”
Mollaseo, aku sudah capek, Jinki.” Jawab Jiyeon.
“ Jinki-ya.” Panggil Jiyeon.
“ Hm?”
“ Aku lapar.” Ujar Jiyeon sambil mengelus perutnya.
Jinki tertawa,
“ Aku juga. Kajja! Kita cari makan!”
“ Ini…foto siapa?” Tanya Jinki yang sedang meminjam handphone Jiyeon.
“ Temanku.” Jawab Jiyeon.
“ Namanya?” Tanya Jinki lagi.
“ Kamu kepo sih? Ayo makan lagi. Itu ayammu masih banyak.” Ujar Jiyeon.
“ Aku sudah kenyang. Yeonnie, jawab aku.” Jiyeon mengacuhkannya.
“ Dia pacarmu ya?” Tebak Jinki sambil setengah menggodanya.
Ani! Dia Minhyuk, temanku.”
“ Tapi kenapa foto kalian dijadikan wallpaper handphone-mu?” Goda Jinki lagi, penasaran dengan namja yang ada di handphone sahabatnya.
“ Yak, memangnya tidak boleh? Aku juga pernah memasang foto kita.” Ujar Jiyeon. Jinki tertawa,
“ Apa kau menyukainya?”
“ Menyukai siapa?”
Namja ini.. siapa namanya tadi? Minhyuk, eo?” Tanya Jinki. Jiyeon terdiam.
Menyukai Minhyuk? Ia mungkin dikatakan bukan sekedar menyukainya tapi sudah dalam kadar mencintainya.
Molla.”
“ Aish yang benar? Aigoo…kau tak mau jujur dengan sahabatmu sendiri?”
Ya, Jinki kita memang hanya bersahabat dan wait! Kenapa hatiku biasa saja? Dulu, setiap kali kau bilang kita hanya bersahabat, hatiku terasa sakit tapi kenapa sekarang tidak?
Jja! Sudah kutebak dari beberapa hari yang lalu, kau sedang jatuh cinta! Hahahaha. Waaah nae Jiyeon sudah jatuh cinta.” Tawa Jinki. Jiyeon mendelik, nae Jiyeon?
“ Aaaa, sudah! Kenapa harus membahas ini?” Ujar Jiyeon menarik handphone-nya.
“ Kenapa wajahmu memerah? Hahahaha! Sudah ku bilang kau jatuh cinta! Hahaha.” Tawa Jinki lagi.
“ Yak! Jinki-ya! Jangan goda aku lagi aish dasar jelek!” Jiyeon mendengus kesal.
Chakkaman, aku ada telepon.” Ujar Jinki dan pergi beberapa meter dari tempat mereka.
Jiyeon berpikir lagi. Ini sungguh aneh. Perasaannya sudah tidak sama dengan 3 tahun lalu. Ia merasakan selama ini bukan cinta yang ia rasakan terhadap Jinki melainkan rasa sayang yang tumbuh karena mereka sudah bersama sejak kecil. Sayang terhadap persahabatan. Jinki bukan cinta pertamanya, karena sekarang ia sudah tak merasakan apa-apa. Ia tetap nyaman berada dekat Jinki yang humoris dan membuatnya selalu tertawa tapi dibalik itu semua rasa nyamannya berbeda dengan apa yang ia rasakan ketika berada di dekat Minhyuk. Ketika bersama Minhyuk, hatinya merasa tenang dan enggan jauh darinya. Ia…
“ Hei, jangan melamun!”
“ Hyukkie?”
“ Yak! Siapa yang kau panggil? Aku Jinki, Yeonnie-__-” Ujar Jinki kembali duduk di hadapan Jiyeon.
“ Oh, Jinki-ya. Mianhae.”
Jiyeon bodoh! Kenapa bisa memanggil Jinki menjadi Minhyuk? Kurasa, karena Minhyuk yang biasanya mengingatkanku jangan suka melamun. Aku jadi merindukannya hihihi.
“ Tunggu! Tadi kau panggil aku siapa? Hyukkie? Hyukkie siapa?” Tanya Jinki.
“Aish jangan kepo deh. Kenapa setelah dari Amerika kamu jadi kepo, Jinki-ya?” Jinki hanya tersenyum.
“ Um, Jiyeon tadi Eomma telepon katanya kita harus pulang. Katanya ada sesuatu yang harus dibicarakan.” Ucap Jinki. Jiyeon hanya mengangguk dan mereka pulang.
-***-
Mwo? Kau harus pulang malam ini?” Jiyeon terbelalak dengan apa yang baru saja Jinki katakan.
Ne. Hee Jin sakit dan aku harus menemaninya disana.” Ujar Jinki.
“ Hee Jin? Nuguya?” Tanya Jiyeon.
Nae yeojachingu.” Jawab Jinki. Yeojachingu?
“ Eum, baiklah. Semoga dia lekas sembuh.” Ujar Jiyeon menepuk bahu Jinki.
Mianhae.” Ucap Jinki. Jiyeon hanya mengangguk,
Gwaenchanha. Kapan kau pulang?”
“ Nanti malam pukul 8.”
“ Aku akan ikut mengantarmu ke bandara ya?”
“ Tentu saja kau harus ikut.”
-***-
Jinki tak melepas genggaman tangannya dengan tangan Jiyeon.
“ Aku akan merindukanmu.” Ucapnya.
“ Aku juga.” Balas Jiyeon setengah menangis. Perasaannya perih seperti 3 tahun lalu. Menyadari sahabat terbaiknya harus jauh lagi dari sisinya.
“ Aku akan ke Korea lagi. Mungkin tahun depan. Serta aku berjanji, ketika aku pulang ke Korea, kau akan menjadi orang pertama yang akan aku temui.” Ujar Jinki lalu memeluk Jiyeon.
Air mata Jiyeon tumpah membasahi beberapa bagian jaket yang dikenakan Jinki.
Uljima.”
“ Jinki, aku menyayangimu.”
“ Eum, aku juga.” Jawab Jinki melepas pelukannya dan menghapus air mata di pipi Jiyeon sambil tersenyum.
“ Aku harus pergi sekarang.” Ujar Jinki sambil menunjuk ke arah jam tangannya. Jiyeon hanya mengangguk,
“ Jinki, hati-hati disana.” Jinki mengangguk.
“ Jinki, salam untuk yeojachingu-mu. Semoga dia lekas sembuh dan kalau kau main ke Korea, ajak dia. Agar jika dia sakit, kau bisa merawatnya disini.” Ujar Jiyeon. Jinki terkekeh,
“ Ide yang bagus. Akan kuusulkan kepada Hee Jin.”
Annyeong, Yeonnie. Kau harus jaga dirimu baik-baik juga disini. Serta kalau aku bawa Hee Jin kesini, kau juga harus pertemukan aku dengan Minhyuk. Kita bisa double date nanti hahaha.”
“ Minhyuk?”
Annyeong!” Seru Jinki sambil melambaikan tangannya. Jiyeon membalas lambaian tangannya.
“ Minhyuk? Double date? Ide yang bagus, Jinki-ya.” Ujar Jiyeon pelan sambil tersenyum.
-***-
Minhyuk’s POV
Aku menginjakkan kakiku ke bandara. Malam ini aku akan menjemput Appa yang akan pulang dari Jepang. Meski aku dan Eomma sudah menetap di Korea beberapa bulan yang lalu, tapi seminggu sekali Appa tetap bolak-balik ke Jepang.
Mataku terfokus pada pemandangan sepasang eum sepertinya sepasang kekasih yang berdiri tak terlalu jauh dariku. Mataku terbelalak melihat siapa mereka, sang yeoja adalah Jiyeon. Ya, Park Jiyeon, yeoja yang cukup membuat hariku tak tenang beberapa hari ini.
Jiyeon bersama seseorang? Namja? Apakah itu namjachingu-nya? Tapi setahuku dia masih single. Wait! Mereka berpelukan? Hatiku…hancur.
Itukah alasan Jiyeon menunda jawabannya? Membuatku berada diambang ketidakpastian. Jiyeon punya namjachingu? Kenapa dia tidak bilang dari awal?
Meski hatiku hancur dan sakit, tentu saja. Tapi aku teringat akan ucapanku beberapa waktu lalu.
Aku akan selalu menunggu Jiyeon. Walaupun itu harus memakan waktuku hingga 10 tahun lamanya.
Menunggu. Hei, bukankah menunggu bukan hanya menunggu jawaban? Menunggu seseorang yang sudah punya pacar juga berarti menunggu kan? Meski rasanya terlalu jahat bagiku untuk mendoakan mereka agar secepatnya berpisah.
Aku…haruskah aku tetap menunggu? Atau aku harus menyerah sampai disini?
-***-
Author POV
“ Jinki sudah kembali lagi ke Amerika?” Tanya Eun Ji. Jiyeon mengangguk.
“ Bukankah ia bilang liburannya di Korea selama 1 minggu? Sedangkan ia baru 3 hari ada disini kan?”
Yeojachingu-nya sakit dan ia minta Jinki untuk merawatnya.” Jawab Jiyeon.
Yeojachingu? Dia sudah punya yeojachingu?” Jiyeon mengangguk.
“ Kau…bagaimana?”
“ Apanya yang bagaimana?”
“ Perasaanmu. Bagaimana? Sakitkah mengetahui Jinki sudah punya pacar?” Tanya Eun Ji.
Jiyeon diam sejenak lalu menggeleng mantap.
Ani. Aku biasa saja, justru aku berpesan kepada Jinki jika ia ke Korea lagi ia harus membawa pacarnya itu.” Jawab Jiyeon memastikan.
Jinjja?!” Jiyeon mengangguk.
“ Lalu bagaimana dengan pertanyaan Minhyuk? Apa kau sudah memutuskannya?” Tanya Eun Ji.
-***-
Jiyeon merasa aneh dengan perlakuan Minhyuk 2 hari ini. Terhitung mulai kamis dan jumat kemarin. Selama duduk bersama Minhyuk, Minhyuk lebih banyak diam. Apa dia sudah lelah menunggunya?
“ Hyukkie, kau kenapa?” Tanya Jiyeon begitu bel pulang berbunyi dan seluruh kelas sudah beranjak pulang. Hanya mereka berdua yang tersisa.
“ Aku? Aku gak kenapa-kenapa.” Jawab Minhyuk.
Really? 2 hari ini kau beda sekali. Apa kau marah padaku?”
“ Marah? Memang kau salah apa?” Tanya Minhyuk sedikit ketus. Mencoba melaraskan hatinya yang sedang beradu ketat dengan otaknya.
Ia ingin bertahan tapi ada sesuatu yang membuatnya harus menyerah. Tapi sepertinya keinginannya untuk bertahan jauh lebih kuat melawan keinginannya yang ingin menyerah.
Jiyeon hanya diam. Apakah Minhyuk marah padanya? Dia salah apa? Tentu saja dia salah karena harus merelakan Minhyuk selalu menunggunya.
“ Apa kau sudah lelah?” Tanya Jiyeon. Minhyuk diam.
Mereka berkecamuk dengan pikiran masing-masing. Minhyuk dengan pikirannya—Jiyeon sudah punya namjachingu, artinya kesempatannya untuk mendapatkan Jiyeon sangat sedikit. Mengharapkan mereka putus rasanya terlalu jahat, haruskah ia bahagia di atas penderitaan orang lain? Menunggu lama bukan masalah terpenting baginya tapi melihat ia akan bahagia diatas penderitaan orang lain rasanya terlalu menyakitkan. Serta Jiyeon dengan pemikirannya—apakah Minhyuk sudah lelah menunggunya? Atau jangan-jangan Minhyuk sudah tak mau menunggunya lagi? Apakah disaat ia sudah memantapkan perasaannya, Minhyuk akan pergi? Apakah kesalahannya yang terlalu plin-plan membuatnya tak bisa mendapatkan cinta yang ia inginkan? Jiyeon merasa sangat bersalah.
“ Aku pulang dulu.” Ujar Minhyuk bangkit dari bangkunya,
“ Kang Minhyuk.” Panggil Jiyeon membuat langkah Minhyuk tertunda.
“ Apakah tawaranmu waktu itu masih berlaku untukku sekarang?” Tanya Jiyeon.
 “ Apakah kau masih mencintaiku?” Minhyuk menoleh untuk kali ini,
“ Tentu saja. Aku masih menunggu jawaban itu dan aku tetap mencintaimu.” Jawab Minhyuk mantap. Tak peduli dengan otaknya yang berkecamuk mengingat kejadian hari rabu malam itu.
Jiyeon mendekat ke arah Minhyuk.
“ Sudah kuputuskan, seharusnya dari awal sudah kuputuskan, maaf sudah menunggumu terlalu lama dan maaf mungkin dan sepertinya aku telah menyakitimu. Aku juga mencintaimu, Minhyuk.” Ujar Jiyeon.
Minhyuk terdiam mematung. Mimpikah?
“ Apakah kau sungguh-sungguh mencintaiku?”
“ Tentu saja, Minhyuk.”
“ Bukankah kau sudah punya namjachingu?”
“ Memang aku sudah punya namjachingu.”
“ Lalu kenapa kau menerimaku?”
“ Minhyuk, apakah IQ-mu menurun? Tentu saja aku punya namjachingu. Karena aku sudah menerimamu, otomatis kau jadi namjachingu-ku kan?”
“ Maksudku, apa tidak ada namja lain selain aku?”
“ Apa yang kau bicarakan, Hyukkie?”
“ Kemarin aku melihat kau berpelukan dengan seorang namja di bandara. Bukankah itu namjachingu-mu?”
“ Dia Lee Jinki, temanku.”
“ Jadi kau tak punya namjachingu?”
“ Minhyuk, harus ku ulang berapa kali, aku sudah punya namjachingu.”
“ Astaga, benar. Dan itu aku, eo?”
“ Tentu saja.” Jawab Jiyeon. Minhyuk memeluk Jiyeon sambil tersenyum. Menyadari seseorang yang ia cintai juga mencintainya dan pemikirannya kala itu salah besar.
Terima kasih, Tuhan.
-***-
“ Jiyeon, pelan-pelan.” Ujar Minhyuk sedikit tergesa-gesa.
“ Kita sudah terlambat 2 menit, Minhyuk.”
“ Astaga baru 2 menit, Jiyeon.” Jiyeon tak menghiraukannya.
“ Ok, baiklah, seharusnya aku memang tahu dari awal kau tidak pernah suka terlambat.” Omel Minhyuk.
“ Yak, JINKI-YA!” Teriak Jiyeon sambil melambai-lambaikan tangannya. Laki-laki yang dipanggil Jinki itu menoleh dan membalas lambaian tangannya serta mendekat ke arah pasangan tersebut.
“ Jiyeon, kenalkan, yeojachingu-ku, Shin Hee Jin.” Ujar Jinki.
“ Shin Hee Jin imnida.”
“ Park Ji Yeon imnida.”
“ Aaa, Jinki-ya~ perkenalkan ini namjachingu-ku, Kang Min Hyuk.” Ujar Jiyeon.
“ Kang Min Hyuk imnida.”
“ Lee Jin Ki imnida.”
-***-
Chagi, kenapa Jinki mirip denganku?” Tanya Minhyuk.
“ Benarkah?” Ujar Jiyeon yang sebenarnya tertawa dalam hati. Minhyuk mengangguk.
“ Mirip, sedikit.” Jawab Jiyeon.
Chagi, aku dan dia lebih tampan yang mana? Sepertinya aku lebih tampan bukan?”
“ Tentu saja kau yang paling tampan untukku. Eum, ngomong-ngomong, sejak kapan kau panggil aku Chagi?!!!”
“ Sejak tadi. Apa tidak boleh?”
“ Tentu saja boleh, Hyukkie. Aku suka panggilan baruku hehehe.” Minhyuk mengeratkan tangannya yang merangkul Jiyeon.
Chagi.”
“ Hm?”
Saranghae.
Nado Saranghae, Hyukkie.”
-End-
Kyaaa! Akhirnya selesai mihihi~ eotteohkae? Semoga chingudeul merasa terhibur dengan endingnya. Terima kasih yang sudah menyempatkan baca dan commentnya. Minhyuk’s Anae akan kembali beberapa waktu yang akan datang. Jangan bosen ya sama ff yang aku buat hehehehe. Daaah, See You~ 


Saturday, September 15, 2012

My Fanfiction : If Life Was A FanFiction


Title : If Life Was A Fanfiction
Author : Minhyuk’s Anae
Length : Oneshoot
Genre : Romance
Rating : PG-15
Casts :
-          Park Seo Hee (OCs)
-          Kang Min Hyuk
-          Park Jae In (OCs)
-          Other Cast
Disclaimer : My Own Plot, kesamaan cerita terjadi karena ketidaksengajaan.
Note : Sorry for Typos and Unperfect Story. Don’t forget Read, Comment, Like. This Fanfiction was published in my account wordpress : minhyukanaefanfic.wordpress.com jangan lupa sekali-sekali mampir ya mihihi *sekalian promo*. Happy Reading! Hope you like it!
---------------------------------------------------------*****----------------------------------------------------
SEO HEE’s SIDE ( Author’s POV)
Aku ingin kisah cintaku seperti ending fanfiction kebanyakan.
Bahagia. Menyenangkan. Selamanya.
Aku ingin hidupku seperti ending fanfiction kebanyakan.
Aku ingin hidupku bukan hanya sekedar berharap.
Berharap pada cinta yang tak pasti dan penuh kesemuan.
Aku ingin dia menyadari semuanya.
Tentang cintaku, perasaanku, ketulusanku.
Aku ingin dia tahu aku mencintainya.
Meski dalam diam dan kesunyian.
Entah mengapa, cinta dalam diam memiliki arti tersendiri bagiku.
Cinta dalam diam membuatku bertahan meski sakit.
Cinta dalam diam terasa seperti candu untukku
Candu untuk mencintainya
Meski hanya cinta diam-diam
( Park Seo Hee )
***
Seo Hee tersenyum kecil sembari menuliskan beberapa baris kata-kata kesukaannya di dalam buku hariannya. Meski tetes demi tetes kini mulai jatuh dan membasahi sebagian kertas yang ada di tangannya. Kepalanya mendongak ke atas, lalu ia usap air matanya.
Bodoh. Ucapnya dalam hati.
Seo Hee merutuki dirinya sendiri karena lagi-lagi ia menangis. Semua karena sore ini pikirannya kembali melayang kepada seorang laki-laki yang ia kenal sekitar 4 bulan lalu. Laki-laki yang membuatnya merasakan suatu perasaan aneh. Perasaan yang terkadang menyenangkan meski lebih sering membuatnya menangis seperti sekarang.
‘Orang bilang cinta itu indah. Tapi tidak untukku, tidak untuk seseorang yang hanya bisa mencintai lawan jenisnya dari belakang. Sembunyi-sembunyi untuk bisa melihatnya. Sembunyi-sembunyi untuk bisa memperhatiannya. Cih, ini seperti kisah cinta jaman dahulu saja. diam. Tanpa ada pernyataan. Tapi inilah aku, Park Seo Hee yang berpegang teguh pada ucapan wanita tak boleh menyatakan perasaannya duluan. Tapi inilah aku, yang meski tau ini sakit sekali tapi tetap saja bertahan. Salahku sendiri, tapi justru aku menikmatinya. Meski aku tak tahu apa ending kisah ini. Meski aku tak tahu harus bagaimana ke depannya. Meski mungkin kecil harapanku untuk bahagia. Namun aku selalu memilih cinta dalam diam.’ Ucap Seo Hee dalam hati.
Seo Hee bangkit dari bangku pinggir lapangan basket dan memastikan keadaan sekolah memang benar-benar sudah sepi. Sudah saatnya pulang. Seo Hee memang suka menyendiri ketika jam pulang sekolah, hanya untuk menulis beberapa bait puisi di buku harian kesayangannya. Hanya untuk koleksi pribadi dan terkadang di baca sendiri dan menyadari betapa miris kisah cintanya.
Handphonenya bordering.
Park Jae In
“ Yeoboseyo, Jae-ya.” Ucapnya mengangkat panggilan dari sahabatnya, Jae In.
“ Eodiseo?” Tanya Jae In dari seberang.
“ Masih di sekolah, wae?”
“ Baguslah, aku ada di depan sekolah habis latihan taekwondo. Kita pulang bareng eo?”
“ Ne.”
“ Ok, baiklah. Aku tunggu diluar. Biippp.” Jae In menutup panggilannya duluan.
Seo Hee yang tidak melihat ada apa di depannya langsung terjatuh,
Bukk
“ Jeoseonghamnida.” Ujar laki-laki yang menabraknya dan mengulurkan tangannya membantu Seo Hee bangun. Speechless. Minhyuk. Laki-laki itu.
“ Gwaenchanhayo?” Tanyanya sambil memperhatikan Seo Hee.
“ Gwaenchanda.” Jawab Seo Hee yang dan bergegas meninggalkan Minhyuk. Takut tak bisa menyembunyikan mukanya yang memerah karena salah tingkah.
Akhirnya. Untuk pertama kalinya mereka berbicara. Hati Seo Hee ingin meloncat keluar.
“ Sekali lagi, maaf untuk tadi, Park Seo Hee!” Teriak Minhyuk membuat langkah Seo Hee terhenti. Ia menoleh ke belakang dan mendapatkan Minhyuk sudah kembali bergabung dengan tim basketnya. Yang terlihat hanyalah tulisan belakang jerseynya, 제임스 6 ( James 6 ).
Minhyuk tahu namaku?
“ Kau kenapa, Seo Hee?” Tanya Jae In memperhatikan raut wajah sahabatnya yang sangat berubah. Sedikit memerah, tersungging senyuman tanpa henti, serta melamun.
“ Minhyuk tahu namaku.” Seo Hee menggigit ujung bibirnya menahan senangnya yang membuncah.
***
“ Darimana ia tahu namaku? Apakah dia seorang stalker sepertiku? Atau jangan-jangan dia tahu aku suka menguntitnya? Aish aku bahkan sedang tak butuh alasan itu. Yang pasti hari ini aku bahagia.”
***
Seo Hee’s POV
Aku melongok kecil ke arah pintu kelas X.1—kelas Jae In dan juga Minhyuk. Oh ya, Jae In dan Minhyuk memang sekelas dan cukup dekat, entah mengapa yang pasti Jae In tak pernah mengenalkan atau berusaha mencomblangkan aku dengan Minhyuk meski terkadang aku berharap dia mau.
“ Park Jae In, ada?” Tanyaku pada seorang laki-laki yang sedang membuang sampah.
“ Ada, masuk aja.” Ujarnya yang kembali masuk ke kelas dan aku mengikutinya dari belakang.
Mataku langsung tertuju jelas pada depan papan tulis dimana Minhyuk dan Jae In sedang berbicara bersama. Ini bukan pertama kalinya aku melihat mereka seperti itu tapi kenapa hatiku tiba-tiba merasakan sakit? Ah, sudahlah aku tak mau berburuk sangka. Aku sendiri baru sadar mungkin Minhyuk tahu namaku dari Jae In, Jae In kan suka teriak-teriak kalau memanggil namaku.
“ Jae-ya!” Panggilku dan Jae In menoleh.
“ Seo Hee-ya! Kita pulang bareng kan? Tunggu tunggu aku sedang bicara sama Minhyuk dulu. Kau duduk saja dulu ya.” Ujarnya yang kembali berbicara dengan Minhyuk dan aku sendiri tidak tahu mereka membicarakan apa. Aku mengambil tempat duduk dan melirik ke arah Minhyuk sebentar. Mengapa kini aku merasa iri dengan Jae In? Jae dekat dengan Minhyuk sedangkan aku? Minhyuk mengenalku pun tidak. Bukankah hanya mengetahui nama itu biasa saja?
Aku bahkan baru sadar bahwa aku terlalu berlebihan dalam menanggapi sesuatu. Cuma dipanggil dan langsung senang gitu aja. Cinta memang membuatku menjadi berlebihan. Terlebih menanggapi seseorang yang aku cintai. Terlalu berharap ia juga mengerti apa yang aku rasa padahal nyatanya tidak sama sekali.
Lagi-lagi pikiranku tertuju pada suatu hal yang buruk dan tidak seharusnya aku pikirkan. Aku berpikir bagaimana jika Minhyuk dan Jae In ternyata saling menyukai? Lalu Jae In mengambil Minhyuk dan aku? Aku dibiarkan terluka begitu saja…aish pikiran berlebihan lagi.
“ Yuk, kita pulang!” Ujar Jae In dan menarikku pulang. Mata kami bertemu—mataku dan mata Minhyuk.
***
“ Kau kenapa?” Tanya Jae In yang mungkin menyadari perbedaan wajahku.
“ Gapapa.” Jawabku singkat.  Moodku benar-benar buruk sekarang. Setelah pikiran macam-macamku tadi, selama perjalanan pulang Jae In juga terus-terusan menceritakan kedekatannya dengan Minhyuk. Membuat si pikiran macam-macam itu muncul lagi dalam benakku.
Mataku lebih terfokus pada jalanan dibanding mendengarkan Jae In cerita. Membuat hatiku sakit saja. lagi-lagi Jae In bertanya aku kenapa, kenapa dia tidak peka sih? Dia mengenalku sudah lebih dari 3 tahun dan tetap saja tidak peka dengan kondisi-kondisiku.
“ Gapapa.” Jawabku lagi dengan sedikit menaikkan suara.
Tiba-tiba pikiran macam-macam itu berpikir lagi.
Mengapa aku harus marah dengan Jae In? apa yang salah dengan kedekatannya dengan Minhyuk? Hei, aku bahkan sama sekali tidak berhak untuk ini. Untuk marah. Bahkan kalau sampai prasangkaku benar, memangnya kenapa? Bukankah setiap orang punya hak untuk mencintai? Memang itu sakit. Sangat sakit ku perkirakan. Tapi, sekali lagi bukankah orang punya hak untuk mencintai orang lain? Dan aku tak punya hak untuk melarang siapapun, termasuk orang yang kucintai. Jae In dan Minhyuk adalah 2 orang yang berarti di hidupku. Jae In terutama. Ia lebih dari seorang sahabat. Seharusnya aku tak pernah berburuk sangka seperti ini.’
Entah mengapa karena pikiran itu air mataku menetes sendiri. Aku cepat-cepat menghapusnya agar Jae In tak menyadari ini. Aku menepis perasaan itu dan berusaha untuk tidak berpikir bahwa Minhyuk dan Jae In…
“ Iya, jadi tadi tuh Minhyuk bercanda gitu sama aku, Seo-ya. Tapi tenang aja kok, aku sama Minhyuk Cuma temenan.” Ujar Jae In yang aku baru menyadari bahwa ceritanya daritadi belum selesai.
“ Ah? Iya hahaha.” Jawabku sedikit tidak nyambung.
***
Aku mulai mengguratkan tinta penaku pada buku harian abu-abuku lagi. Jae In bilang semoga kejadian sore itu bisa membuatku menuliskan kata-kata bahagia. Nyatanya tidak sama sekali, hanya satu lembar dan lembar lainnya masih penuh dengan sesak.
Aku benci berpikir seperti ini.
Berpikir sahabatku mengambil orang yang ku cintai.
Aku benci berpikir seperti ini.
Berpikir sahabatku akan meninggalkanku dan mengambilnya.
Aku benci berpikir seperti ini.
Berpikir sahabatku diam-diam menusukku dari belakang.
Aku benci berpikir seperti ini. Benci.
Ku pejamkan mataku sejenak dan mulai menuliskan apa isi hatiku lagi.
Setidaknya hanya hal itu yang bisa membuat bebanku lepas sementara.
Tapi nyatanya pikiranku masih sesak dengan kejadian tadi.
Aku benci menganggap sahabatku menyakitiku.
Aku benci karena aku sendiri takut persahabatanku hancur.
Aku benci pikiran ini ada dan hinggap dalam hatiku.
Ku tepis. Ku tepis. Ku buang.
Berpikir jernih semoga sahabatku bukan manusia macam itu
Aku tak mau memikirkan hal ini lagi
Karena sekali lagi,
Aku tak mau persahabatanku hancur karena praduga yang mungkin salah sasaran.
***
Perasaanku benar-benar seperti diujung kesakitan. Aku bahkan kini terlalu sensitive jika mendengar Jae in menceritakan Minhyuk. Tak seperti hari-hari sebelumnya, aku selalu antusias tapi tidak untuk sekarang. Sakit. Pedih. Perih. Aku benar-benar bingung harus ku kemanakan perasaan ini agar pergi jauh dari hatiku.
“ Jae-ya.” Panggilku. Jae In menoleh sambil memakan kentang goreng yang ada ditangannya.
“ Kau tahu? Aku iri padamu.” Ujarku dengan senyum sinis. Kupikir dengan menyatakan perasaanku, perasaan buruk ini bisa hilang.
“ Iri? Iri kenapa?” Tanya Jae In bingung dan berhenti makan.
“ Iri bahwa kamu bisa dekat dengan Minhyuk hahahaha.”
“ Jadi kamu curiga aku sama Minhyuk ada apa-apanya? Yaelah, Seo Hee…Minhyuk bahkan bukan tipeku sama sekali. Tenang aja, aku bukan orang yang suka tmt-in orang kok hahahaha.” Aku hanya tersenyum kecil.
“ Tapi, aku serius, Jae. Aku bener-bener iri. Iri karna aku gak bisa jadi kamu. Aku gak bisa deket sama Minhyuk. Boro-boro Minhyuk bisa deket sama aku, saling kenal aja enggak kan?”
“ Kamu marah sama aku?” Tanya Jae In intens.
“ Enggak, aku gak marah. Tenang aja hehe.”
“ Maaf, Seo Hee…aku gak punya maksud apa-apa untuk ngedeketin Minhyuk. Hanya sebatas teman.”
“ Aku tahu dan aku gak marah sama sekali. Nyantai aja.” Jawabku. Fyuh, rasanya 75% sesak dalam dadaku berkurang. Lega.
Apakah ini suatu tanda bahwa menyimpan perasaan terlalu dalam itu tidak baik? Emm maksudku seharusnya diungkapkan. Apa aku harus bilang begini juga sama Minhyuk? Aish itu jayus, Seo Hee. Masa gak kenal tapi tiba-tiba deketin dan bilang suka. Gak lucu banget.
***
Siang ini Jae In bilang ada kerja kelompok kelas dan tak mungkin pulang bersamaku. Kerja kelompok sama Minhyuk-kah dia? Hahahaha pikiran burukku kini sudah tak terlalu menghinggapi lagi. aku bahkan sudah tak peduli seberapa Jae In dan Minhyuk dekat. Lagipula aku tahu dan percaya bahwa Jae In adalah sahabat yang baik jadi dia tak mungkin menyakitiku kan?
Aku memberhentikan langkahku begitu menemukan Jae in dan Minhyuk sedang berduaan dekat pintu keluar. Mataku terbelalak begitu menemukan tangan mereka saling berpegangan. Hatiku mencelos. Praduga buruk itu muncul lagi.
Aku ingin berbalik arah dan tak mau melihat mereka tapi sayangnya satu-satunya pintu keluar sekolah ya disitu dan aku terpaksa harus melewati mereka berdua.
“ Saranghae. Will you be my girlfriend?” Langkahku terhenti mendengarnya. Jadi…jae In dan Minhyuk?
***
Hatiku. Yang kurasa akan kuat seperti baja nyatanya tidak. Baja yang terkenal kuatpun ternyata bisa hancur. Kini, kondisi hatiku sama seperti baja yang tersiram hujan asam. Hancur, lebur, musnah.
***
MINHYUK’s SIDE (Minhyuk’s POV)
Gadis itu membuatku tertarik. Gadis yang tiap pulang sekolah suka keluar-masuk kelasku untuk menghampiri Jae In. sesekali mata kami bertemu tapi dia buru-buru membuang muka. Aku juga sering melihatnya duduk dipinggir lapangan basket sambil membawa buku berwarna abu-abu. Aku perkirakan itu buku hariannya. Ck, dasar wanita.
Aku tak tahu namanya. Tak tahu cara mendekatinya. Juga masih bingung apakah aku benar-benar mencintainya. Apa aku harus mendekati Jae In dan mencari tahu tentang gadis itu? Ah, tidak. Aku tahu sifat wanita, terlalu susah memegang rahasia.
Setiap latihan basket hatiku selalu berharap gadis itu akan duduk di pinggir lapangan basket. Jadi, aku bisa sesekali mencuri pandang ke arahnya. Hanya itu yang bisa ku lakukan. Sekali lagi, aku belum tahu cara yang tepat untuk mendekatinya. Termasuk hari ini.
Ku langkahkan kakiku agak cepat karena jam latihan sudah mulai sekitar 10 menit yang lalu. Aku terlambat.
Buukkk
Bodoh. Aku menabrak seseorang hingga ia terjatuh.
“ Jeoseonghamnida.” Ujarku dan berusaha membangunkannya. Ku baca name tag yang ada di seragamnya. Park Seo Hee. Ketika aku melihat wajahnya, aigoo! Jadi gadis itu…
“ Gwaenchanhayo?” Tanyaku sambil memperhatikan gadis itu. Mencoba menyadarkanku bahwa gadis di hadapanku yang ku tabrak benar-benar gadis itu. Si gadis buku abu-abu.
“ Gwaenchanda.” Jawabnya dan segera berlalu meninggalkanku.
 “ Sekali lagi, maaf untuk tadi, Park Seo Hee!” teriakku memanggil namanya. Park Seo Hee. Ya, hari ini aku mengetahui namanya. Aku melirik jam tanganku dan bodoh! Aku sudah benar-benar terlambat latihan!
***
Aku memejamkan mataku. Latihan basket memang menyita tenagaku. Tapi sebenarnya ada yang lebih menyita tenaga dan pikiranku, dia Park Seo Hee. Menggelikan sebenarnya memikirkan hal itu hahahaha tapi nyatanya memang seperti itu.
Park Seo Hee. Park Seo Hee. Park Seo Hee.
Aku mengucapkan itu berulang kali. Terlalu bergembira untuk mengetahui namanya. Park Seo Hee. Nama yang cantik sama seperti yang punya hahaha astaga Minhyuk, sejak kapan kau jadi gombal seperti ini? Semenjak bertemu Park Seo Hee~
Tapi yang kupikirkan adalah mengapa mata Park Seo Hee selalu menghindari mataku? Seperti tadi contohnya. Ia buru-buru pergi. Apakah ia tahu bahwa aku suka memperhatikannya diam-diam? Lalu ia jadi takut padaku. Seo Hee, kau memang yeoja paling beruntung di dunia karena aku, Kang Minhyuk, namja paling unyu bisa jatuh hati padamu. Dan kau Seo Hee, kau adalah yeoja paling aneh sedunia, karena bisa membuatku, Kang Minhyuk yang biasanya waras jadi tidak waras seperti ini.
Apakah cinta bisa membuat seseorang gila? Sepertinya iya. Lihat saja aku.
“ Yak, Jae In bodoh! Tugas begini saja tidak bisa. Ayo kerjakan! Kalau tidak aku tidak akan membiarkanmu pulang.” Omelku pada Jae In karena dia salah mengerjakan tugas kerja kelompok.
“ Hyaaa, Minhyuk jelek! Kau Cuma bisa meledek orang! Ini juga sedang aku kerjakan tahu!!” Omelnya tak kalah nyolot dariku.
“ Jae-ya!!” Panggil seseorang memanggil Jae In membuatku menoleh. Hwaaaa!! Yeoja itu!
Tak lama setelah Jae In selesai dengan tugasnya, ia pulang bersama Seo Hee. Sayang sekali hari ini dia terlalu sebentar di kelasku.
***
“ Jae In babo!” Panggilku dan Jae In menatapku sinis.
“ Aku mau minta tolong padamu, mau tidak?” Tanyaku.
“ Shirreo! Kau sudah memanggilku babo! Shirreo!” Tolaknya keras.
“ Mian…baiklah, Jae In yang pintar, yang cantik, neomu neomu neomu yeppeo bahkan mengalahkan Song Hye Kyo, mau tidak membantuku?” Pujiku dengan terpaksa sebenarnya.
“ Ok, Hyuk-ah. Karena aku baik, aku mau. Apa?” Aku tersenyum menerima jawabannya.
“ Kau kenal Park Seo Hee?”
“ Seo Hee? Kenal lah! Dia sahabatku. Wae?”
“ Dia yeoja yang seperti apa?”
“ Seperti apa ya? Kasih tau gak ya?”
“ Jaeeeeeee…”
“ Arra, Arra. Seo hee itu yeoja yang baik, penyabar, bijaksana. Wae?”
“ Mau gak kamu deketin aku sama dia?”
“ Shirreo!”
“ Jaeeeeee….!!!!”
“ Shirreoyo! Deketin aja sendiri.”
“ Aku gak tahu gimana caranya.”
“ Tembak aja sana.”
“ Langsung tembak gitu?”
“ Ya kan biar lo tahu perasaan dia sama lo, Minhyuk.”
“ Yatapi kan aku sama dia gak kenal?”
“ Ya apa kek. Aduuuuuhhhh…kenapa lo babo sih? Tinggal bilang aja lo udah lama nunggu dia Cuma bingung deketinnya gimana. Ah babo.”
“ Lo kok bisa tau? Gue emang udah lama nunggu dia.”
“ Ya makanya bilang. Cinta itu gak bisa Cuma didiemin. Nantinya gak kesampean. Kan kasian.”
“ Bantuin gue.”
“ Ok, pulang sekolah gue bakal bantu lo gimana ngungkapin perasaan ke cewek.”
Aku tersenyum senang. Jae In memang baik mihihihi.
***
“ Coba! Gue mau liat gimana caranya lo nyatain perasaan lo!”
Gue coba megang tangan Jae In, sebenernya ngebayangin kalo itu Seo Hee.
“ Saranghae. Would you be my girlfriend?”
***
Author’s POV
“ Saranghae. Would you be my girlfriend?”
Jae In dan Minhyuk menyadari suara langkah seseorang yang terhenti di dekat mereka. Seo Hee.
“ Seo Hee…” Panggil Jae In lirih. Menyadari bahwa sahabatnya pasti salah menyangka. Minhyuk melepaskan genggamannya pada Jae In.
“ Permisi, aku mau lewat. Maaf ganggu.” Ujar Seo Hee pergi melewati mereka berdua. Jae In mengejarnya.
“ Seo Hee…ini bukan seperti apa yang kamu kira. Ini salah sangka!!” Teriaknya tapi terlambar Seo Hee sudah berlari menuju mobilnya dan beranjak pergi meninggalkan sekolah, sahabat yang begitu dipercayainya, dan seseorang yang dicintainya.
Jae In tertunduk. Air matanya mengucur. Minhyuk hanya diam terpatung bingung harus berbuat apa.
“ Aku bodoh, Minhyuk. Seharusnya aku tak membiarkan kita ada diluar ruangan. Seo Hee akan marah padaku. persahabatanku hancur begitu saja.”
“ Maaf.” Ujar Minhyuk merasa bersalah. Bersalah kenapa dia harus meminta Jae In mengajarkannya cara menyatakan perasaan.
“ Ini bukan salahmu, Hyuk-ah. Disini tidak ada yang salah. Semuanya hanya salah sangka.”
“ Uljima, Jae. Apa sekarang kita menyusul Seo Hee saja dan menjelaskan apa yang terjadi?”
“ Jangan sekarang. Seo Hee justru akan bertambah marah pada kita. Biar aku nanti yang tanggung jawab.” Ujar Jae In pergi meninggalkan Minhyuk.
“ Gagal.” Bisik Minhyuk pada dirinya sendiri.
***
Seo Hee duduk berlutut. Wajahnya dibiarkan diterpa angin yang cukup kuat menatap hamparan padang rumput yang luas. Air matanya masih jelas mengucur deras. Aku tak mungkin pulang ke rumah dengan kondisi kacau seperti ini.
Hatinya berkecamuk. Antara percaya dan tidak. Sahabatnya dengan berani menyakitinya. Ini seperti sebuah mimpi buruk. Bahkan hati kecil Seo Hee belum percaya betul dengan kejadian tadi.
Aku mungkin bukan orang yang tepat untuk Minhyuk. Mungkin Jae In memang lebih tepat dan pantas. Aku menangis bukan karena aku melarang Jae In untuk mencintai Minhyuk atau sebaliknya. Melainkan pelampiasan rasa sesak dalam dadaku yang minta dikeluarkan. Aku sakit. Tentunya. Jadi rasanya seperti ini di-teman makan teman-kan? Sakit sekali. Tapi aku juga tidak boleh egois. Aku akan merelakan semuanya. Cintaku demi sebuah persahabatan. Aku rela sakit asal persahabatanku tetap utuh. Terlalu lucu persahabatan yang sudah kupupuk sekian lama hancur hanya seorang laki-laki. Bukankah setiap orang memiliki hak untuk mencintai orang lain? Jae in berhak mencintai Minhyuk. Minhyuk berhak mencintai Jae in. aku pun berhak mencintai Minhyuk. Hanya saja cintaku bertepuk sebelah tangan. Kosong. Tanpa suara. Tak akan bersatu. Aku harus bisa melupakan Minhyuk. Mungkin ini takdirku untuk tidak bersama Minhyuk. Aku akan melepasnya, dan suatu saat nanti akan ada laki-laki lain yang harus kupertahankan. Bukankah masih banyak laki-laki di dunia ini selain Minhyuk? Aku mencintai Minhyuk namun aku lebih mencintai sahabatku, Park Jae In.
Jae In diam menatap punggung seseorang yang bergetar karena tangisan. Ia tak menyangka Seo Hee ada di tempat ini. Ia bahkan baru ingat keduanya akan sama-sama kesini jika ada masalah. Jae In ingin segera berlari memeluk sahabatnya itu, menceritakan kisah sebenarnya bahwa semuanya hanya kesalahpahaman. Tapi, ia takut Seo Hee melepas pelukannya. Jae In hanya diam mematung. Punggungnya juga bergetar, air matanya juga mengalir, namun tangannya ia bekapkan ke mulutnya, menahan agar tak ada suara tangisan yang muncul.
Menyadari ada orang lain, Seo Hee segera mengambil tasnya dan berbalik menuju mobil. Tanpa disangka orang itu justru Jae In. mereka diam. Seo Hee mulai mendekati Jae In dan tersenyum,
“ Bagaimana? Kau terima Minhyuk? Chukkae…ku harap kalian bisa lama.” Ujar Seo Hee tenang meski air matanya masih mengalir sambil menepuk pundak sahabatnya. Jae In menggeleng.
“ Kau babo, Park Seo Hee.” Jae In tersenyum sinis.
“ Memang. Aku babo untuk menangis karenamu. Sudah kubilang setiap orang punya hak untuk suka dengan orang lain dan aku bodoh melarang hakmu untuk mencintai Minhyuk hanya karena aku.” Jawab Seo Hee. Hatinya kini benar-benar rela. Mati rasa. Sakitnya sudah menumpuk sehingga tak ada rasa sama sekali.
“ Bukan itu. Kau babo karena mengira Minhyuk mencintaiku dan aku mencintai Minhyuk.” Seo Hee mengerutkan keningnya.
“ Kau babo karena pergi duluan saat aku panggil. Kau babo tak mau mendengarkan penjelasan sahabatmu. Kau babo menjadikan sahabatmu seperti seorang paling bersalah di dunia ini. Aku bukan tipe orang yang bisa mencintai orang yang sahabatku suka. Dan namja kesayanganmu itupun tidak mencintaiku sama sekali. Oh ya sebelum cerita, aku minta izin dulu untuk menjelaskan semuanya. Boleh?” Seo Hee mengangguk. Keduanya kini duduk di hamparan rumput.
Jae In menceritakan semuanya bahwa kejadian itu dikarenakan Minhyuk mau mengungkapkan perasaannya pada Seo Hee. Masa bodoh Minhyuk akan marah karena nanti jika ia nembak ulang Seo Hee sudah tahu semuanya. Yang penting persahabatannya selamat.
“ Jadi? Minhyuk? Menyukaiku?” Tanya Seo Hee bengong mendengar penjelasan Jae In. Jae In mengangguk cepat.
“ Ya. Awalnya dia memintaku untuk bisa mendekatkan kalian sayangnya aku tidak mau. Kenapa aku tidak mau? Karena kalau begitu cowok itu gak punya usaha untuk deket sama kamu kan? Makanya dia mau langsung nembak kamu. Sayangnya saat latian kamu liat dan jadi salah sangka.”
“ Aku bodoh ya, Jae.”
“ Memang.”
“ Aku jadi harus bagaimana sekarang?”
“ Molla.”
“ Jaeeee….aku harus bagaimana?”
“ Lihat saja besok.”
***
Minhyuk menatap Seo Hee dari belakang. Lama-lama ia duduk di sebelahnya. Seo Hee menoleh meski sempat kaget.
“ Park Seo Hee.” Panggil Minhyuk. Seo Hee menoleh,
“ Maaf sudah sempat membuatmu dan Jae In salah sangka.”
“ Maaf juga sudah menabrakmu dulu.”
“ Maaf juga…. Sudah membuatmu sempat menangis.” Seo Hee mengerutkan dahinya. Minhyuk mengambil tasnya dan mengambil buku abu-abu itu.
“ Kemarin terjatuh saat kamu pergi. Oh ya, maaf sudah lancang membacanya. Memang benar, cinta yang diam-diam itu seperti candu. Sayangnya, cinta tidak bisa dibiarkan diam. Cinta harus diutarakan. kalau tidak dan tidak kesampaian akan sakit disini.” Ujar Minhyuk menunjuk dadanya.
“ Aku juga berharap sama sepertimu. Berharap ending hidupku seperti sebuah fanfiction. Fiction. Khayalan. Indah. Tapi susah dicapai karena itu khayalan. Tapi hidup itu bukan sebuah fanfiction, yang kita hanya bisa berharap dan berharap untuk ending yang bahagia. Untuk mencapai endingnya, kita yang harus menulis sendiri jalan ceritanya dan Tuhan memberi kita arah untuk bagaimana kita menentukan si jalan ceritanya.” Minhyuk diam.
“ Lalu?” Tanya Seo Hee berharap Minhyuk melanjutkan percakapan itu.
“ Lalu, aku harap akan ada sebuah fanfiction tentang kita.” Ujar Minhyuk.
“ Maksudnya?”
“ Apa kamu mau nulis bareng fanfiction tentang kita? Nanti kita saling tuker pikiran biar ending fanfiction kita bagus.” Seo Hee mengernyit berusaha mengerti apa kata-kata Minhyuk barusan.
“ Terlalu gombal lo, Hyuk! Bilang aja mau gak jadi pacar gue? Pake acara bahas fanfiction segala.” Ujar Jae In yang tiba-tiba dateng. Seo Hee tertawa kecil.
“ Jadi gimana?” Tanya Minhyuk sambil menatap Seo Hee.
“ Gimana apanya?” Seo Hee nanya balik.
“ Jawabannya.” Jawab Minhyuk.
“ Yaudah kita jadi author bareng-bareng yuk!” Jawab Seo Hee tersenyum melambangkan pernyataan cinta Minhyuk yang sebenernya dibilang aneh itu diterima. Minhyuk tersenyum.
“ Aku gimana, Seo Hee? Aku nanti ada di fanfiction kalian gak? Eh maksudnya cerita hidup kalian gak? ” Tanya Jae In.
“ Ada kok, Jae. Nanti aku jadiin kamu support cast ya hahahaha.” Tawa Seo Hee disambut tawa Minhyuk dan Jae In.
***
Aku senang ending penungguanku seperti ini.
Membahas fanfiction lagi.
Tidak, aku tak akan membuat sebuah fanfiction atau karangan lain.
Aku akan berusaha menjadi author yang baik untuk kisah hidupku sendiri.
Bersama orang-orang yang aku cintai tentunya. Orang tua, sahabat, dan namjachingu.
Namjachingu? Aku bahkan tak pernah sadar betul bahwa kini aku punya namjachingu.
Kisah yang unik menurutku.
Namjachingu yang bahkan belum terlalu aku kenal.
Namun lama-lama kami akan saling mengenal satu sama lain.
Serta berharap bisa jadi author yang baik bagi masing-masing kisah hidup kami yang berharap akan bisa menjadi sebuah cerita yang menyatu, bersatu, selamanya.
*End*
Mianhae Readers kalau kurang bagus ^^ jangan lupa RCL! Gomawo for read this story :)