Monday, September 2, 2013

[Fanfiction] The Promise


Title : The Promise
Author : Minhyuk’s Anae
Length : Oneshoot
Rating : PG-16
Genre : Romance, Friendship
Cast :
-          Wu Yi Fan (Kris)
-          Amber Liu
-          Jung Soo Jung (Krystal)
-          Kim Jonghyun
-          Other Cast
Note : Thank you if you read this. I’m so glad if you want to fill the comment and click the like button. My happiness is when all of you enjoy the story. Re-post : aninjustanin.blogspot.com .  This Fanfiction is belong to Kris-Ber Shipper.

Sunday, September 1, 2013

Saturday, August 24, 2013

You

Kisah tentang cintaku dengan siswa baru pada masa sekolah menengah pertamaku, entah kapan akan selesai.
Aku masih ingat posting pertama yang ku tujukan kepadanya adalah Coup De Foudre yang ku tulis 10 hari setelah bertemu dengannya. Sebuah posting yang ku tulis dengan grammar bahasa inggris yang sangat acak-acakan--maklum, aku masih kelas 2 smp waktu itu. Bagaimana kisah itu mulai berawal dan menjadi setumpuk cerita melebihi novel tebal yang pernah ku baca, menjadi setumpuk kata yang tak bisa ku ungkapkan.
Sampai pada posting-ku yang sekarang, tulisanku masih tertuju untuknya.
Aku tidak tahu sampai kapan aku menulis segala cerita tentang kisah cintaku yang mengalun seperti balada bersama siswa baru itu.
Mungkin tak ada posting terakhir.
Mungkin juga akan ada posting terakhir tentang kisah kami.
Mungkin aku ingin posting terakhir itu akan bercerita bagaimana Cinta Pada Pandangan Pertama-ku itu berujung bahagia setelah bertahun-tahun lamanya.
Halo, Juli 2010, aku ingin mengulang kisah itu. Aku ingin memperbaikinya dan menjadikannya ending bahagia. Lalu aku tahu itu tak mungkin, sekarang aku ingin tetap menjadikannya ending yang bahagia.

Tahun Ketiga dan Tahun Pertama

Akhir-akhir ini pikiranku kacau ketika membayangkan wajahmu. Perasaan lelah mulai ku rasakan. Apa aku sudah lelah menunggu?
Ini adalah tahun ketiga aku menyukaimu. Menunggumu untuk sadar bagaimana aku sudah jatuh hati padamu semenjak pertama kali mataku memandangmu. Di pinggir kaca pintu kelas dua sekolah menengah pertama, dan segala kenangan selama setahun berada di sampingmu adalah hal yang tak akan kulupakan.
Awalnya ku kira menunggu bertahun-tahun tak akan ada hal yang berpengaruh dalam hidupku. Mungkin aku hanya perlu diam, menunggumu datang, menyambutmu kembali--itupun jika kau ingin aku menyambutmu, lalu akan datang di mana cintaku akan berlabuh bahagia. Tapi ternyata menunggu tidak semudah itu.
Cintaku tidak terluapkan, rinduku tidak tersampaikan, kau tahu juga tidak, bukan?
Lalu aku sempat berpikir, mengapa aku masih menunggumu? Di saat mungkin saja kau di sana tak pernah memikirkan aku barang selintas. Apa Anin masih mencintaiku?
Walau tak pernah ada kata terucap langsung dariku bahwa aku mencintaimu, terlalu mustahil kau tidak tahu bahwa aku pernah memendam rasa.
Setelah menunggu 3 tahun lamanya ditambah Setahun penantian untuk kembali bertemu, aku merasa ganjil pada rasaku. Apa yang telah aku perbuat selama ini untukmu, apa ada timbal balik baik bagiku? Apa ada balasan untukku?
Lalu sadarku datang, bahwa kata mereka cinta memang seperti itu. Cinta datang meski tak diminta, cinta akan hinggap meski sudah disuruh pergi.
--Jangan pernah tanyakan berapa kali aku menyuruh rasa itu pergi, aku sudah berusaha tapi dia datang lagi. Dan aku tidak punya alasan untuk tidak menyuruhnya tetap tinggal.

Pada Tahun Ketiga setelah pertemuan kita dan Tahun Pertama setelah perpisahan kita, cintaku mulai meragu.

Jika Aku Boleh Meminta

Jika aku boleh meminta, maka aku akan memintamu suatu hal. Bukan hal yang muluk tapi cukup berarti bagiku. Bukan hal besar tapi terasa istimewa bagiku. Bukan apa-apa tapi berharga bagiku. Itupun kalau kau membolehkannya.

Jika aku boleh bertanya, ada satu pertanyaan yang mengusik relung hatiku untuk bertanya padamu. Pernahkah aku hadir dalam pikiranmu?
Jika jawabanmu tidak, sama seperti yang aku perkirakan, maka aku akan memintamu satu hal, itupun jika kau mengizinkan aku untuk memintanya.

Jika aku boleh meminta, maka aku akan memintamu untuk menyimpan namaku, memori tentangku, dan sedikit kenangan kita di hidupmu. Jika hidupmu terlalu luas untuk menerimaku, maka ku sarankan kau simpan saja aku hanya sebatas di hatimu. Jika sebuah hati masih terlalu lapang untuk kau bisa memikirkanku, maka simpan saja aku di sel-sel pikiranmu yang kecil tapi banyak. Jika semua itu masih terlalu muluk untuk ku minta, maka bisakah kau simpan memori tentangku walaupun hanya sebatas pada unsur terkecil dalam tubuhmu?
Sebuah unsur yang mungkin bisa lebih kecil dari sel, dari molekul, dari partikel, dan sebuah unsur yang paling kecil yang tak akan pernah bisa terbagi lagi.
Jika semua itu tak bisa kau terima, jika kau masih tak mau menyimpan memori tentangku sama sekali, maka aku akan melepasmu untuk pergi.
Jika suatu saat kita memang tidak pernah bertemu lagi, jika hari itu adalah hari terakhir aku bisa memandangimu, memandangmu lebih dekat, dan bertemu denganmu, jika suatu saat kau membaca tulisan kecilku ini, maka aku ingin kau jawab pertanyaan yang ku tulis di atas tadi dan aku ingin kau mengabulkan permintaanku.
Jika kau tetap tak bisa, maka mungkin ini semua sudah takdirnya.

Satu hal lagi jika hari itu adalah hari terakhir kita bertemu, kau hanya perlu tahu bahwa kau akan dan selalu ada pada bagian terbesar dalam tubuhku.
kadang, aku juga ingin kau simpan aku di sel-sel darahmu. yang mengalir terus selama kau hidup, dan bisa selalu kau ingat. Jika semua yang ku tulis bisa kau baca dan kau sadari, maka cintaku tidak akan sebalada ini

Saturday, August 17, 2013

[Fanfiction] Honest or Prestige

Title : Honest or Prestige
Author : Minhyuk’s Anae
Length : Oneshoot
Rating : Teenager
Genre : Romance
Cast :
-          Jung Soo Jung (Krystal)
-          Kang Min Hyuk
-          Lee Taemin
-          Jung Yong Hwa
-          Other Cast
Disclaimer : Author’s pure imagination
Note : Thanks if you read this, I’m so glad if you want to fill the comment or click the ‘like’ botton. Re-post : aninjustanin.blogspot.com

Thursday, June 20, 2013

I Will Miss Them #3

It must be the 3rd seasons of "I Will Miss Them" after I tell you about my previous class, Pesta&Serenade. Now, I'm going to tell you about my class, my beloved class, the first class on senior high school, the unpredictable class, Sedan81.
What is Sedan81? Who is Sedan81? I will tell you more now.

Monday, June 3, 2013

Datanglah

Setahun berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin kita saling kenal, rasanya baru kemarin kau membuatku jatuh hati, rasanya baru kemarin kau dan aku saling berbagi cerita, dan sudah setahun kau meninggalkanku.
Wajahmu masih terbayang jelas di memoriku, tuan. Bagaimana matamu membentuk sebuah senyuman saat kau tersenyum. Bagaimana matamu menyorot tajam tapi hangat setiap aku mengajakmu berbicara. Bagaimana mataku mencari bayangku yang tidak ada di sorotan matamu.
Secercah rasa bahagia menyelinap dalam hatiku untuk mengetahui bahwa kau masih mengingatku. Meski hanya sebatas teman. Tapi, untuk mengetahui kau masih ingat saja, ini sudah cukup untukku, Tuan.
Terus ingat aku, tuan. Sebagai temanmu yang bisa menerima kamu apa adanya. Sebagai temanmu yang siap sedia menerimamu. Kemudian kau akan ingat aku sebagai seseorang yang menaruh harap padamu. Kemudian kau akan ingat aku sebagai seseorang yang menunggumu. Kemudian kau akan ingat aku yang selalu mencintaimu.
Kemudian, berbaliklah, tuan.
Datanglah. Pertemuan kita akan sangat berarti meski jika Tuhan hanya memberi kita waktu yang sempit. Datanglah. Walau seandainya hatimu tetap tidak bisa ku miliki, ku mohon datanglah.
Datanglah. Meski hanya sebatas menatap matamu barang sebentar. Datanglah. Meski yang ingin ku dengar lebih dari apa yang ku harapkan.
Mungkin harapanku terlalu muluk untuk memintamu untuk datang. Jika keberatan, mengapa Tuhan tidak pertemukan kita sebentar saja? Aku hanya butuh melihat keadaanmu sebentar dan mendengar suaramu memanggil namaku dengan tegas seperti biasanya.
Datanglah. Jika takdirku bukan dirimu kau boleh pergi lagi. Lalu aku tidak akan mengharapmu lagi. Tapi kumohon datanglah. Meski hanya satu kali. Meski kemudian Tuhan bisa ambil nyawaku, karena yang aku ingin adalah melihatmu satu kali lagi. Tersenyum dan memanggil namaku, Anindityas.
Karena hanya dirimu yang memanggil nama depanku dengan lengkap.

It Had Been A Year

It had been a year i didn't meet you. How are you? How's your life? Do you find a happiness there?
I remember the last moment we met, last year, 3rd June 2012 on a farewell party.
I remember that day I wore a red kebaya and doing some make up on my face. I walked in with my high heels and smile to everybody. Then my eyes catched you so handsomely with grey tuxedo and blue-grey strips tie. I looked at you so deeply, althought I know you didn't realize at that time.
I looked at you, only looked at you, always looked at you. I tried to captured your face on my brain and my heart. I tried to captured your face on my mind. I knew that after that day I don't know where or when we will meet again. I looked at you and whispered to my self, please, looked at me too, D
My heart beated so fast when I knew that the farewell already ended. I tried to find you, just want to say a farewell words and got a picture with you. So unfortunately, I didn't find you at that time. I looked around again but I didn't find you. Then, I walked out from that place and go home with a disappointed feeling that I didn't get our picture and I didn't say good bye to you.
Day by day, week by week, month by month then this day had come. A year after the farewell party. A year I didn't meet you. A year I didn't hear your sound. A year I didn't look your face. But there is one thing that you had to know, I still captured your face on my mind. Always. I never forget your face, No, I won't.
It had been a year, Mr. So, should I wait you for two years, three years, and more long years? Should I? Maybe, I should.

Wednesday, May 29, 2013

Fatamorgana

Aku berjalan di ruang yang sepi tanpa henti. Aku sendiri disini, tanpa tahu arah berjalan tanpa henti. Kemudian dari kejauhan tampak sosok yang begitu sangat ku kenal. Aku melihatmu. Berdiri disana dengan tegas memandangku sembari tersenyum. Dengan tulus hati, ku balas senyumanmu. Kau lambaikan jemarimu memintaku untuk mendekat. Tentu saja, dengan senang hati, aku mendekat.
Kemudian kedua alisku mengerut tidak mengerti. Mengapa sosokmu semakin menjauh? Kau terus memintaku mendekat, tapi disaat aku mencoba mendekat mengapa kau mengambil langkah ke depan untuk jarak yang lebih jauh? Aku terus mencoba dan tak mengerti. Ku kira akhirnya kau akan berhenti dan membiarkanku berjalan mendekatimu.
Lama-lama kakiku lelah juga. Kau terus seperti itu. Melambai, meminta, dan menjauh.
Namanya fatamorgana.
Aku tersadar bahwa sosokmu yang ada di jauh sana hanya fatamorganaku. Sama seperti genangan air pada gurun pasir yang panasnya lekat. Terlihat nyata padahal hanya sebuah fiksi;tidak nyata. Akhirnya aku berhenti. Masih memandangmu lekat kemudian aku berkedip dan kau menghilang begitu saja dari pandanganku.
Aku berbalik menatap tapakan jalan yang telah ku lewati sebelumnya. Aku pulang lagi menyusuri jalan itu dan tidak mau meneruskan lagi perjalanan anehku. Namun suaramu membuat nyaliku ciut lagi. Suara nyaringmu terus memanggil namaku. Aku sempat berpikiran untuk kembali mengejarmu namun tidak. Kau hanya sebuah fatamorgana.
Aku kemudian terus melanjutkan langkahku pulang sebelum pikiranku berubah dan semakin gila mengejar bayangan fatamorganamu yang tidak pernah jadi nyata.